BERITAKALTIM.CO – Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mengecam pencegatan dan penahanan warga sipil, termasuk WNI, oleh militer Israel dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di Laut Mediterania Timur.
“Tindakan ini melanggar prinsip kebebasan navigasi, perlindungan personel kemanusiaan, dan kekebalan misi sipil berdasarkan hukum humaniter internasional,” kata FPCI dalam pernyataan tertulis di Instagram, Rabu.
Menurut FPCI, berdasarkan informasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), armada tersebut membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza ketika beberapa peserta, termasuk sembilan WNI, dicegat.
FPCI menyatakan keprihatinan mendalam atas penahanan WNI yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut dan mendesak pembebasan seluruh personel yang ditahan.
“Kami menuntut pembebasan segera semua personel yang ditahan dan menjamin keselamatan warga sipil yang terlibat dalam misi kemanusiaan,” kata FPCI dalam pernyataan itu.
FPCI juga menyambut pernyataan bersama menteri luar negeri Indonesia, Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol yang mengutuk serangan Israel terhadap armada Global Sumud.
Organisasi itu menyatakan dukungan penuh terhadap langkah diplomatik Kementerian Luar Negeri RI untuk melindungi WNI di tengah situasi yang terus berkembang.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan Indonesia telah berkomunikasi dengan Yordania, Turki, dan Mesir guna memastikan keselamatan sembilan WNI yang ditahan Israel.
“Saya sudah meminta perwakilan kita berkomunikasi dengan kementerian luar negeri di Yordania, Turki, dan Mesir untuk mencari informasi akurat terkait posisi dan keadaan saudara-saudara kita,” kata Sugiono.
Sugiono memastikan pemerintah akan mengoptimalkan seluruh upaya agar para WNI peserta konvoi kemanusiaan ke Gaza dapat segera kembali ke Indonesia dengan selamat.
Kementerian Luar Negeri RI pada Rabu mengonfirmasi sembilan WNI peserta misi kemanusiaan ke Gaza menjadi korban pencegatan pasukan Israel terhadap kapal-kapal konvoi tersebut.
Di antara sembilan WNI itu terdapat tiga wartawan media nasional, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo.
ANTARA | WONG
Comments are closed.