BERITAKALTIM.CO – Pabrik peleburan nikel PT Kalimantan Ferro Industry (KFI) di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, meledak kedua kalinya, Sabtu (18/5/2024) sekitar pukul 16.00 WITA. Tidak ada korban jiwa, namun ledakan itu menimbulkan kekuatiran warga sekitar.
Pabrik peleburan nikel itu diresmikan 19 September 2023. Merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) Pemerintahan Joko Widodo untuk mewujudkan hilirisasi industri. Nikel yang dihasilkan dari pabrik ini dipakai untuk suplai bahan baterai mobil listrik.
Ledakan kali ini bukan yang pertama. Akhir tahun lalu, 11 Oktober 2023, sebuah ledakan dahsyat terjadi dan menelan nyawa dua pekerja asal Tiongkok. Satu pekerja meninggal di tempat, satunya lagi wafat di RSUD Abdul Wahab Sjahranie setelah lima hari dirawat.
Seno Aji, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kaltim mengatakan, pihaknya telah memanggil para direksi untuk dimintai keterangan terkait insiden ini.
“Pabrik smelter itu memang ada kejadian ledakan lagi. Dan kita sudah panggil para direksinya. Sudah ada SOP dibuat perusahaan sesuai yang kita sudah perintahkan. Tapi ternyata beberapa dari SOP itu terlewat,” ungkapnya saat ditemui di Sekretariat DPD Gerindra Kaltim Jalan Kadrie Oening, Sabtu (19/5/2024).
Seno juga mengatakan bahwa ia meminta kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kaltim untuk mengaudit kejadian ini.
“Saya sudah meminta disnakertrans kaltim untuk benar-benar mengaudit. Apakah itu sistemnya atau perilaku dari karyawannya,” jelasnya.
Lebih lanjut Seno menyampaikan, bahwa dalam waktu dekat jika sudah ada hasil audit dari Disnakertrans, maka akan digelar rapat DPRD Kaltim.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada hasil auditnya dan kita akan segera duduk bersama di DPRD, paling lambat minggu depan,” terangnya.
Seno berharap semua bisa segera mendapatkan hasil auditnya dan bisa duduk bersama mencari apa penyebab dari ledakan untuk yang kedua kalinya.
“Kalau yang sebelumnya masalahnya dari prosedur, dan ini terjadi lagi. Artinya ada sesuatu yang lain yang perlu diinvestigasi oleh disnakertrans. Apakah sistem itu yang lemah atau mungkin peralatannya yang tidak standar,” pungkasnya. #
Reporter: Yani | Editor: wong