BERITAKALTIM.CO – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, meninjau langsung lokasi longsor dan banjir di Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Selasa (13/5/2025) sore.
Bambang memastikan bahwa longsor yang terjadi bukan sekadar akibat cuaca ekstrem, tetapi juga dampak dari aktivitas tambang ilegal di masa lalu.
“Ada empat titik longsor paling parah, dua di antaranya menyumbat sungai hingga menyebabkan banjir. Salah satu penyebabnya adalah bekas tambang ilegal di sekitar tahun 1999–2000 yang dulu dibuka secara serampangan,” ujar Bambang saat ditemui di lokasi, Selasa malam.
Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 14 rumah terdampak longsoran. Empat orang dilaporkan luka-luka, dua di antaranya luka berat dan harus dirujuk ke rumah sakit, sementara dua lainnya mengalami luka ringan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Bambang menjelaskan bahwa longsoran dari tebing-tebing bekas tambang membawa material ke Sungai Margamulya, yang berada di wilayah Desa Purwajaya. Material longsoran menyumbat aliran air dan menyebabkan air meluap hingga ke pemukiman warga.
“Sungainya meluap karena alirannya tersumbat material. Akibatnya banjir tak bisa dihindari,” jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya melakukan normalisasi sungai secepatnya. Dinas ESDM, kata Bambang, akan menggandeng berbagai pihak, termasuk Forum Pengembangan dan Pembelajaran Masyarakat (FPPM), pemerintah kabupaten, BPBD, dan pihak swasta.
“Kami akan rapatkan besok di kantor ESDM pukul 14.00. Tujuannya menyatukan langkah, karena normalisasi ini berat dilakukan tanpa alat berat. Swasta punya peran penting,” ucapnya.
Terkait pertanggungjawaban, Bambang mengatakan bahwa tambang ilegal yang diduga menjadi pemicu sudah lama ditinggalkan dan tidak diketahui pemilik pastinya.
“Tambang ilegal itu sudah lima sampai enam tahun ditinggal. Sayangnya, tidak dilakukan reklamasi dengan baik. Jadi sekarang dampaknya baru terasa,” ungkap Bambang.
Warga setempat juga mengaku kesulitan membersihkan sungai secara manual dan berharap segera ada bantuan alat berat. Pemerintah pun tengah mengkoordinasikan langkah lanjutan bersama dinas-dinas teknis lain seperti Dinas PU, Lingkungan Hidup, Sosial, dan Perhubungan.
“Kami ingin proses pemulihan ini dilakukan bersama, karena warga tidak bisa kerja sendiri. Kami harap kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta bisa mempercepat normalisasi,” Pungkasnya.
Reporter : Yani | Editor : Wong
Comments are closed.