BeritaKaltim.Co

Warkop Koh Abun “Pelabuhan” Jejak Legenda Kopi Samarinda

BERITAKALTIM.CO – Di sudut Jalan Pelabuhan, Samarinda Kota, berdiri sebuah warung kopi sederhana yang menjadi saksi perjalanan waktu lebih dari setengah abad. Warkop Koh Abun Pelabuhan begitu masyarakat mengenalnya bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, tetapi ruang perjumpaan lintas generasi yang terus hidup sejak 1970-an.

‎Iwan Rustan pemilik warkop legendaris ini. Ia dan keluarga merintis usaha sejak era ketika kopi masih identik dengan penyeduhan manual dengan suasana santai tanpa hiruk pikuk gawai.

Ia sosok ramah yang masih setia berdiri di balik meja racikan melayani pelanggan setiap hari, dari pukul 06.00 hingga 17.00 Wita.

‎Berlokasi di sebuah bangunan sederhana, Warkop Koh Abun menghadirkan atmosfer klasik yang jarang ditemui di tengah gempuran kedai kopi modern. Meja kayu, aroma kopi yang mengepul dari dapur kecil, hingga obrolan santai para pelanggan menjadi bagian dari pengalaman yang membuat orang kembali bahkan setelah puluhan tahun.

Sebutlah nama-nama besar seperti Said Amin, Harbiansyah Hanafiah, yang masih sering muncul di kedai kopi ini. Belum lagi sejumlah pejabat dan pengusaha yang menjadi langganan dan kerap membuat jalan Pelabuhan macet karena parkiran mobil-mobil mereka bersama dengan ‘pasukannya’.

‎Kopi disajikan dengan teknik lama menggunakan saringan kain dan gaya tarik yang menghasilkan tekstur lembut namun tetap pekat. Biji kopinya berasal dari Robusta Malang, disangrai sendiri untuk menjaga kualitas rasa yang konsisten sejak pertama kali warkop ini berdiri.

‎”Di sinilah rahasia kelezatan sekaligus kekuatan utama Koh Abun bertahan hingga hari ini,” ujar Rustan pada, Rabu (3/12/2025).

‎Lebih dari 50 tahun perjalanan, Warkop Koh Abun telah melewati tiga generasi pelanggan. Dari para pekerja pelabuhan, pegawai kantoran, hingga anak muda yang penasaran mencicipi rasa autentik masa lampau.

‎”Tempat ini menjadi ruang pertemuan yang menembus batas usia dan profesi,” pesannya.

‎Tak heran jika setiap pagi, bangku-bangku sederhana di Warkop Koh Abun selalu terisi. Ada yang datang untuk sarapan ringan, ada pula yang sekadar melepas penat sambil menikmati secangkir kopi panas dengan pemandangan suasana pelabuhan yang hiruk pikuk.

‎Meski kopi adalah jagoan utama, Warkop Koh Abun juga menyediakan pilihan bagi mereka yang kurang menyukai cita rasa pahit. Ada teh, susu, dan ragam camilan klasik seperti roti bakar srikaya, roti telur, hingga telur setengah matang menu sederhana yang menyempurnakan suasana jadul yang ditawarkan.

‎Soal harga, semua menu tetap bersahabat, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp15.000. Keterjangkauan ini menjadikan Warkop Koh Abun bukan hanya tempat ngopi, melainkan ruang nostalgia yang bisa dinikmati siapa saja.

‎Di tengah perkembangan kota Samarinda yang terus bergerak, Warkop Koh Abun Pelabuhan hadir sebagai pengingat bahwa kehangatan sebuah tempat tidak ditentukan oleh kemewahan, tetapi oleh konsistensi rasa, keramahan pengelolanya, dan cerita yang terus terjaga.

‎”Sebuah legenda yang bertahan bukan karena berubah, melainkan karena setia pada akar tradisinya,” tutupnya

‎SANDI | WONG

Comments are closed.