BERITAKALTIM.CO- Kampung Muara Pantuan berada di ujung Sungai Mahakam. Tidak ada jalan darat menuju perkampungan nelayan itu, sehingga siapapun yang ingin datang harus menumpang perahu atau kapal motor. Hari Minggu 4 September lalu, sejumlah wartawan diundang mengunjungi kampung itu. Sebuah perusahaan minyak dan gas bumi, PT Pertamina Hulu Mahakam, ingin memperkenalkan karya mereka bersama dengan warga dan pemerintahan desa di sana.
Ya, inilah kawasan wisata desa terbaru di Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil interaksi positif perusahaan PHM atau pertamina hulu mahakam dengan masyarakat sekitar operasi tambang.
Sejak 55 tahun silam, kawasan Delta Mahakam dikenal sebagai sumber minyak dan gas bumi nasional. Produksinya bahkan mencapai 34 persen produksi nasional saat operatornya masih perusahaan asing Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation. Sejak 1 April 2017, setelah kontrak berakhir, Pertamina menjadi pengelola baru seluruh sumur minyak dan gas di sana.
Walau tergolong sumur-sumur migas tua alias mature, tapi produksinya masih gemuk menjadi andalan Indonesia. Pada triwulan kedua tahun 2022, produksinya sebesar 26,819 Barel per hari untuk minyak dan 551,2 Juta Standar Kaki Kubik per Hari untuk gas. Produksi itu melebihi target program dan budget yang ditetapkan Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas.
Sebelum menuju laut lokasi memancing, para undangan, wartawan, peserta lomba dan pejabat pemerintahan serta pihak perusahaan, beristirahat dulu di perkampungan nelayan Muara Pantuan. Di tempat inilah peralatan memancing, umpan dan transportasi disiapkan. Panitia menyiapkan kapal bermesin untuk membawa rombongan ke ke lokasi spot memancing yang sedang mereka populerkan bernama ‘Apartemen Ikan’.
Bukan tanpa alasan para nelayan memberi nama ‘apartemen ikan’. Sebab ternyata di kawasan itu, perusahaan bersama dengan para nelayan sudah membangun 40 titik rumpon.
Rumpon inilah yang disebut para nelayan sebagai apartemen ikan. Besi-besi yang mereka benamkan di laut, akan memicu tumbuhnya plankton yang mengundang ikan-ikan kecil maupun besar berdatangan mencari makan. Terbukti, hanya sekitar 2 jam berada di kawasan apartemen ikan itu, ada peserta yang berhasil mendapat dua puluhan ekor ikan kakap merah.
“Kawasannya potensi Mas. tinggal dipopukerkan aja melalui medsos, saya yakin banyak yang bakal datang ke sini,” kata Rusdi, pemenang lomba dalam kegiatan Festival Memancing Mahakam 2022 itu.
Dulu sekali, para nelayan di Desa Muara Pantuan, Desa Sepatin dan sekitarnya, menangkap ikan di dekat-dekat anjungan rig pengeboran minyak dan gas yang beroperasi aktif di sana. Keberadaan puluhan rig lepas pantai itu ternyata membuat ikan-ikan laut tertarik mendekat karena pada besi-besi konstruksi rig muncul plankton yang menjadi sumber makanan ikan.
Pihak perusahaan melarang nelayan mendekati lokasi pengeboran migas. Selain berbahaya dan statusnya sebagai objek vital nasional, keberadaan nelayan mengganggu arus pelayaran kapal-kapal yang keluar masuk kawasan Delta Mahakam menuju Sungai Mahakam.
Tidak mudah untuk melarang nelayan menyingkir dari kawasan instalasi pengeboran minyak lepas pantai. Karena sudah menyangkut kebutuhan ekonomi, yakni sumber pencarian nelayan, tak jarang muncul gesekan sosial antara perusahaan dengan nelayan.
Sampai akhirnya PHM menemukan sosok tokoh desa bernama Haji Azis. Warga setempat yang menjadi pelopor perubahan kebiasaan mencari ikan, dari lokasi pengeboran minyak ke rumpon. Pak Azis yang mengajak nelayan-nelayan di sana agar ikut program membangun rumpon dengan nama Apertemen Ikan. Sebab laut masih sangat luas, sehingga tidak harus mencari ikan di dekat rig pengeboran minyak.
Selain itu, keberadaan nelayan mencari ikan di kawasan rig juga mengganggu alur pelayaran dari Selat Makassar ke Sungai Mahakam menuju Samarinda.
Sebelum muncul Pak Azis, di kampung nelayan itu warga nyaris putus asa. Sebab kawasan mencari nafkah sehari-hari dibatasi, akibat adanya instalasi minyak dan gas yang beroperasi di sana. Belum lagi persoalan klasik seperti sulit BBM. Di kampung itu, tidak ada tempat pembelian solar resmi, sehingga para nelayan harus rela membeli bahan bakar minyak jenis solar dengan harga 12 ribu rupiah per liter.
Para nelayan membelinya dari kapal-kapal motor yang singgah di kampung mereka. Biasanya, kapal-kapal yang berlayar singgah membeli ikan-ikan tangkapan nelayan dan pasa saat itulah terjadi barter antara ikan tangkapan nelayan dengan BBM solar.
Masa-masa sulit para nelayan membuat perusahaan Pertamina Hulu Mahakam bersama Pertamina Hulu Indonesia dan SKK Migas, tidak tinggal diam. Semua potensi desa dan kekayaan alam yang tersedia dipetakan. Hingga akhirnya muncul inspirasi desa wisata yang dimulai dari menciptakan kawasan memancing di Delta Mahakam.
Tentu tidak hanya sampai di situ saja. PHM sudah membuat berbagai program pemberdayaan masyarakat, termasuk untuk kalangan emak-emak untuk produktif dengan memanfaatkan bahan baku berbasis ikan.
Kini dari kawasan desa nelayan itu sudah ada sejumlah produksi hasil emak-emak. Saat Festival Memancing Mahakam 2022 digelar, di Balai Pertemuan Umum Desa Muara Pantuan emak-emak binaan PHM memamerkan produk-produknya, seperti brand petis udang produksi ibu Rohana, Abon Udang produksi Hj Hayati, kerupuk ikan buatan ibu Rosnawiah dan Kerupuk Udang Mekar Suriani yang diproduksi Ibu Suriani. Ada juga Sambal Asli Petis dan Petis Mercon yang rasanya langsung nembak di lidah, pedas.
Masih banyak lagi program CSR Pertamina Hulu Mahakam untuk para nelayan Delta Mahakam. Misalnya menyiapkan proyek percontohan panel surya agar perahu nelayan menggunakan listrik tenaga matahari untuk mengatasi masalah klasik, kelangkaan dan BBM mahal.
“Program wisata memancing rencananya kita gelar setiap tahun. Tadi sudah terlihat bagaimana potensi ikannya di sana,” ucap Head of Communication Relations & CID Pertamina Hulu Mahakam, Frans Alexander Hukom.
Jalan sudah terbuka. Para nelayan tidak lagi menjadikan hasil tangkapan ikan sebagai satu-satunya sumber pendapatan. Ada banyak alternatif, solusi, agar mereka lepas dari persoalan kemiskinan.
Haji Azis dan para nelayan, juga pemerintahan desa sudah membayangkan, kelak desa mereka menjadi sasaran kunjungan para wisatawan. Mereka tidak hanya datang memancing, tapi menikmati suasana perkampungan nelayan, taman mangrove dan pemandangan lepas pantai berhiasan sinar dari rig-rig perusahaan.
Dari Desa Muara Pantuan, Charles Siahaan, BKTV, melaporkan
Comments are closed.