BeritaKaltim.Co

Penduduk Miskin di Desa 126.060 Jiwa dan Kota 86.820 Jiwa

samarinda -skpd-sembakoSAMARINDA, BERITAKALTIM.com- Jumlah orang miskin di Kaltim pada Maret 2015 sebanyak 212.890 jiwa, dengan rincian 86.820 jiwa tinggal di perkotaan dan 126.060 jiwa tinggal di perdesaan. Garis kemiskinan penduduk perkotaan pada maret 2015 adalah Rp485.887/kapita/bulan, sedangkan untuk perdesaan Rp452.999/kapita/bulan.

Penduduk miskin itu, baik yang tinggal di perkotaan maupun perdesaan sangat sensitif terhadap kenaikan harga rokok dan ayam potong, di luar kenaikan harga beras dan sewa rumah. Pengeluaran untuk produk makanan itu menyumbang prosentase terbesar terciptanya kemiskinan.

Persentase komoditi makanan penyumbang garis kemiskinan untuk perkotaan, menurut BPS Kaltim ada lima komoditi, beras 27,72%, rokok (11,40%), daging ayam ras (6,08%), telur ayam ras (5,95%), mie instan (3,90%). “Kalau lima komoditi itu harganya naik, penduduk miskin menjadi tambah tertekan ekonominya,” kata Kepala BPS Kaltim, Ir Aden Gultom, MM. Sedangkan untuk lauk-pauk yang harganya sangat mempengaruhi penduduk miskin adalah ikan tongkol, tuna, dan cakalang.

Biro Pusat Statistik Provinsi Kaltim dalam berita resminya terakhir yang diterbitkan 15 September lalu menyebutkan, Sedangkan komoditi makanan penyumbang kemiskinan di perdesaan juga sama, tapi persentasenya lebih tinggi. Untuk di perdesaan pengaruh naiknya harga beras terhadap pembentukan kemiskinan mencapai 32,53%, rokok (13,72%), teluar ayam ras (5,48%), gula pasir (4,48%), dan mie instan (4,29%). “Komoditi itu di perdesaan lebih mahal dibandingkan di perkotaan, makanya persentasenya mempengaruhi penduduk miskin lebih tinggi di perdesaan,” tambahnya.

Sedangkan komoditi nonmakanan penyumbang garis kemiskinan di perkotaan, menurut BPS Kaltim adalah perumahan (sewa rumah) menyumbang persentase 41,05%, listrik (10,59%), bensin (9,76%), pendidikan (7,58%), dan air menyumbang 5,37%.

Sebaliknya komoditi yang sama, persentase pengaruhnya terhadap penduduk miskin di perdesaan, juga hampir sama, dimana untuk perumahan persentasenya 42,94%, bensin (12,97%), listrik (8,51%), perlengkapan mandi (4,75%), dan pendidikan (4,41%).

Semua itu memperlihatkan bahwa, untuk mendapatkan bensin setiap liternya dan perlengkapan mandi, penduduk perdesaan mengeluarkan uang dalam jumlah lebih besar dibandingkan orang kota, sedangkan untuk mendapatkan listrik dan pendidikan membayar lebih murah.

Menurut Gultom, indkes kedalaman dan keparahan kemiskinan cenderung meningkat. Indkes kedalaman naik dari 0,793 pada bulan September 2014 menjadi 0,904 pada Maret 2015. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan naik dari 0,176 di September 2014 menjadi 0,219 di Maret 2015. #into

Comments are closed.