
TANJUNG SELOR, BERITAKALTIM.COM – Warga Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor, Bulungan, melakukan penghadangan bus angkutan karyawan tambang batu bara milik PT Pusaka Jaya Internasional (PT PJI). Aksi penghadangan ini dilakukan pada Senin (15/2/2016) pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat.
Aksi yang dilakukan warga ini, salah satu ungkapan luapan kekesalannya terhadap keberadaan perusahaan batu bara yang mengeruk hasil bumi di desa mereka. Pasalnya, sejak perusahaan ini beroperasi hingga sekarang, keberadaannya tidak pernah memberikan bantuan kepada desa.
“Kami kesal, makanya kami dagang angkutan perusahaan yang melintas. Bagaimana tidak kesal, sejauh ini tidak ada partisifasi perusahaan kepada desa kami. Bantaun-bantaun jika ada kegiatan tidak pernah ada, apa lagi bantuan berupa CSR,” keluah warga yang ikut menghadang bersama Ketua Rukun Tetangga (RT) desa itu.
Sejak perusahaan PT PJI ini masuk di wilayah teritorial Desa Apung, hingga sekarang tidak pernah memberikan bantuan fasilitas umum kepada warga. Jangankan bantuan insidentil saat peringatan HUT RI maupun kegiatan keagamaan. Perbaikan jalan umum saja, tidak pernah ada. Padahal, setiap hari angkutan perusahaan ini melintas di lingkungan pemukiman warga.
Dalam aksi penghadang yang dilakukan sejumlah warga bersama-sama dengan beberapa ketua RT tersebut, setidaknya warga berhasil menyandera satu unit bus angkutan pekerja ke lokasi tambang milik PT PJI. Dan, bus baru dibebaskan oleh warga setelah pihak perusahaan melakukan penyiraman jalan lingkungan ditambah dengan pengurukan jalan-jalan yang berlubang yang dilintasi angkutan perusahaan di sekitar pemukiman warga.
Ketua RT 3, Nurhakimi, mengatakan, aksi ini akan pihaknya lanjutkan jika keberadaan perusahaan tetap tidak ingin membantu desanya. Terutama perbaikan jalan lingkungan yang dilintasi angkutan milik perusahaan serta memberikan pembinaan lingkungan melalui CSR.
“Selama ini, perusahaan nyaris tidak pernah merespon usulan warga. Padahal angkutan perusahaan melintas di tengah pemukiman warga. Jalan rusak berlubang, tidak dilakukan perbaikan. Enak betul mereka,” ujarnya.
Diakui oleh Nurhakimi, warga Apung sebenarnya sudah lama mengeluhkan keberadaan perusahaan tambang batu bara ini. Sebab sejak keberadaan di Apung hingga sekarang tidak ada berkontribusi kepada desa. Akhirnya warga hanya kebagian debunya saja. Padahal keuntungan didapat dari Apung, tak terhitung nilainya.
Oleh karena itu, wajar jika warga desa ini menuntut haknya. Lagi pula saat perusahaan kali pertama masuk, pihaknya telah berjanji untuk membina lingkungan desa tersebut.
“Bina lingkungan itu maksudnya, membantu perbaikan failitas umum, kegiatan keagamaan, hari-hari besar nasional maupun kegiatan sosial lainnya. Tapi ini tidak dilakukan oleh perusahaan,” celeutuh sejumlah warga yang ikut menghadang angkutan perusahaan milik PT PJI ini.
Seperti diketahui, jalan menuju Desa Apung, masih tanah merah bebatuan. Saat hujan turun praktis kondisi jalan tersebut becek dan berlumpur. Akibatnya, aktifitas warga, terhenti hingga menunggu jalan benar-benar kering. Kondisi seperti ini, sudah berjalan puluhan tahun. Keberadaan perusahaan diharapkan warga untuk bisa memperbaiki jalan tersebut, tetapi haraoan itu ternyata pupus lantaran pihak perusahaan tidak mau tahu. #Nay/Ism
Comments are closed.