BeritaKaltim.Co

Malam Nuzulul Qur’an di Berau: Jangan Cuma Bacaan, Tapi Dipahami

417.inddberau malam nuzul quranTANJUNG REDEB, BERITAKALTIM.COM– Bupati Berau Muharram yang menjadi penceramah dalam peringatan Malam Nuzulul Qur’an 1437 Hijriah Selasa (21/6) tadi malam di Masjid Agung Baitul Hikmah

menyampaikan kepada kita semua, Kabupaten Berau janganlah jadikan Al-Quran sebagai sekedar bacaan toh. Tetapi mari kita pahami isi dan kandungan karena baru bisa berfungsi sebagai jadi pedoman hidup apabila isi dan kandungannya kita pahami dan mari memperbanyak majelis-majelis Al-Quran,” pungkasnya.
Peringata Nuzulul Qur’an tersebut bertajuk “Mari Jadikan Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup untuk Membentengi Diri dari Pengaruh Perkembangan Teknologi, Informasi dan Globalisasi”. Hadir dalam peringatan Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo, Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Jonie Marhansyah, beberapa anggota DPRD Berau, pejabat di lingkungan Pemkab Berau dan undangan lainnya.
Bupati Muharram dalam tausiyah mengungkapkan ciri-ciri dan kekhususan kitab suci Al-Quran sehingga bisa dijadikan pedoman hidup manusia khususnya umat muslim.
“Pertama, kitab itu suci apabila tidak ada campur tangan manusia dalam pembuatan dan penciptaannya. Al-Qur’an adalah murni seratus persen firman Allah swt yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril. Kedua, ciri-ciri kitab itu suci adalah isi dan kandungannya sesuai dengan fitrah manusia,” ungkapnya.
Ditambahnya, Al-Quran yang terdiri 6.666 ayat, 118 surat dan 30 juz juga memiliki kekhususnya sehingga dikatakan suci yakni isi dan kandungan dalam keselurahan ayat tidak ada yang saling bertentangan, satu dengan yang lain.
“Faktor yang ketiga, kitab itu bisa dikatakan suci apabila isinya antara yang satu dengan yang lain, tidak ada saling tumpang tindih dan saling bertentangan. Dari 6.666 ayat, 118 surat, dan 30 juz, semua ayat Al-Quran itu tidak ada saling tumpang tindih, yang satu mengatakan ke kiri dan yang satu mengatakan ke kanan. Tidak ada itu, semua sempurna atau utuh,” tambahnya.
Kemudian, Muharram menceritakan kisah lahirnya Syarifudin Khalifah dari negeri Etopia yang banyak mengislamkan warga negeri Etopia.
“Sebagai mukjizat, di negara Etopia lahir seorang manusia yang bernama Syarifudin Khalifah, dari seorang ayah khatolik (Agama Kristen Khatolik –red) dan ibu khatolik dalam usia tiga tahun, ini anak hafal Al-Qur’an. Bahkan ketika dia mau disusui oleh ibunya, dia tidak mau menyusu sebelum ibunya mengikrarkan dua kalimat syahadat,” bebernya.

Terakhir, Muharram mengharapkan umat muslim di Bumi Batiwakkal dapat betul-betul menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup, dengan juga memahami isi dan kandungannya.#MAR

Comments are closed.