BeritaKaltim.Co

Tindak Tegas Agen dan Pangkalan Yang Nakal

TANJUNG REDEB BERITAKALTIM.CO- Seringnya terjadi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon tidak hanya membuat warga geram, anggota DPRD Berau pun merasa geram. Karena itu Dewan meminta aparat kepolisian dan instansi terkait menindak tegas, apabila ada agen dan pangkalan nakal, terkait langkanya elpiji 3 kilogram bersubsidi yang diperuntukkan untuk masyarakat miskin.

Anggota Dewan, M Yunus SH, Sabtu (3/3) mengatakan, banyak kejanggalan saat ini yang terjadi di masyarakat terkait elpiji 3 kg yang beredar di wilayah Kabupaten Berau. “Sesuatu yang aneh kerap ditemui dimasyarakat, diantaranya pangkalan kehabisan stok dalam sehari dua hari, tanpa sempat memenuhi kebutuhan masyarakat disekitar secara keseluruhan pangkalan itu sendiri, padahal baru saja menerima suplai dari agen elpiji 3 Kg,” paparnya.

“Selanjutnya, warga jarang mendapatkan harga elpiji 3 Kg sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) seperti yang ditentukan pemerintah kabupaten, yaitu sekitar Rp 27 hingga Rp 28 per tabung. Agen dan Pertamina harus bertindak tegas tekait pangkalan binaannya,” ungkapnya.

Kenyataannya harga elpiji 3 Kg bersubsidi di pangkalan atau ditingkat pengecer , selama ini berkisar antara harga Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per tabung. “ Bahkan pada saat terjadi kelangkaan, menurut , laporan warga harga gas 3 kilogram mencapai Rp 40 ribu pertabung, miris kami mendengar,” Ungkapnya.

Untuk itu politisi PKS ini mengimbau,kepada Pemerintah Kabupaten Berau, terutama dinas terkait agar lebih meningkatkan kinerjanya, apalagi menyangkut kebutuhan warga.

“Logikanya, jika setiap pangkalan bisa mengayomi masyarakat disekitar pangkalannya sendiri, kelangkaan tidak akan terlalu signifikan terjadi di Berau. Dengan banyaknya pangkalan, dan terlihat suplai begitu lancar oleh para agen, namun masih terjadi kelangkaan. Ini ada apa?,” Ungakapnya.

Yunus khawatir, adanya indikasi permainan pangkalan nakal, sehingga lebih mengutamakan menjual ke pengecer langganan dari pada kepada warga, karena harganya bisa lebih tinggi.

Selain itu, terkait stok pangkalan, agen nakal bahkan bisa pula turut bermain, dengan mengutamakan suplai kepada pangkalan yang lebih berani membayar harga pengambilan diatas ketentuan, dan sanggup untuk menyuplai melebihi kuota bulanan.

Selanjutnya tugas Dewan, pemerintah melalui Diskoperindag, serta instansi terkait, adalah mencari bdenang merah terkait kelangkaan gas elpiji serta berapa kuota bulanan yang diterima oleh Kabupaten Berau setiap bulannya.

Yunus juga memberikan apresiasi kepada Pemkab Berau yang telah menerapkan pembelian gas melon menggunakan KTP dan KK, sebagai upaya meminimalisir terjadinya kalangkaan dan penditribusian gas bersupsidi bisa tepat sasaran.

“Jika ada indikasi permainan di tingkat agen dan pangkalan, kami mendesak aparat berwenang dan Diskoperoindag untuk mengambil tindakan tegas sesuai aturan, baik sesuai UU BPH Migas maupun UU Perlindungan Konsumen,” tegasnya.

Yunus juga mengungkapkan, meski sudah menerapkan pembelian gas melon menggunakan KTP dan KK, tetapi instansi terkait harus selalu melakukan pemantauan terhadap harga elpiji 3 kilogram ini. Pesannya.MAR

Comments are closed.