TARAKAN: Inilah keluhan dari warga sekitar pinggir Sungai Sebengkok di Tarakan, Kalimantan Utara. Jika hujan deras turun atau air laut pasang, rumah-rumah mereka tidak lagi nyaman karena dimasuki oleh air. Kebanjiran itu baru terjadi dalam setahun belakangan.
Ada puluhan penghuni rumah di kampung Sebengkok Tarakan mengeluh, karena rumah-rumah mereka semakin sering kebanjiran. Luapan air terjadi jika hujan turun deras, ditambah lagi kalau air laut pasang.
Menurut Ketua RT 01, Azis, warga dan juga dirinya merasa jengkel karena kebanjiran itu mengganggu sekali dan hanya dialami warga di tepi sungai. Azis mengaku sudah 50 tahun tinggal di situ dan baru dalam setahun ini rumahnya ikut terendam banjir.
Apa penyebabnya?
Usut punya usut, musibah banjir ini baru terjadi sejak jembatan Sebengkok dibangun sekitar setahun lalu. Dulu ketika jembatan masih kayu, tidak ada masalah dengan rumah warga, namun setelah dicor beton malah berdampak terhadap lingkungan rumah di tepi sungai.
Warga sudah mencek, tiap kali hujan turun, air sungai tidak lancar mengalir. Di kolong jembatan terlihat ada penumpukkan sampah yang diakibatkan adanya pendangkalan akibat ada tumpukan karung goni berisi batu-batuan dan pasir.
“Saya sudah 50 tahun tinggal di Sebengkok ini, tidak pernah mengalami kebanjiran. Tapi setelah jembatan ini diperbaiki sekitar setahun lalu, rumah saya dan juga warga kena banjir,” kata Azis.
Azis dan masyarakat Sebengkok hanya menduga-duga, pasir dan batu dalam karung itu sengaja dipasang oleh kontraktor jembatan untuk menahan pondasi jembatan. Tujuannya untuk menahan tiang jembatan. Jika benar dugaan itu, maka ada kemungkinan jembatan itu berbahaya karena tiang pondasinya hanya bersandar di atas tumpukan batu-batu itu.
Jembatan dengan lebar 10 meter itu adalah fasilitas vital warga Sebengkok ke jalan raya Yos Sudarso, Azis ingin Pemprov Kaltara yang membangun jembatan itu turun tangan melihat dan mencari solusi, agar warga tidak kebanjiran lagi. #
Sumber: Tim Kaltim TV, Abdul Latif, Tarakan.
Comments are closed.