BeritaKaltim.Co

Esemka Terus “Digoreng” untuk Menyerang Jokowi, Padahal Sudah Ada Produksinya

BERITAKALTIM.CO- Mobil Esemka masih jadi bahan “gorengan” kubu yang berlawanan dengan pemerintahan Joko Widodo. Isu itu terus dimunculkan oleh para pentolan kubu tersebut seperti Said Didu, Mustofa Nahrawardaya hingga MS Kaban, mantan Menteri Kehutanan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Kenapa jadi ingat Esemka, Kereta Cepat Bandung-Jakarta, Bandara Kertajati, Kereta Api Borneo, dan Stadion Persija ya”, ujar Mustofa pada akunnya @TofaTofa_id.

Mustofa mengkaitkan cuitannya dengan berita tentang IKN (Ibu Kota Negara) yang sudah disahkan undang-undangnya dan akan direalisasikan pembangunannya. Dari cuitan itu Mustofa nampak ingin mengatakan proyek IKN kelak akan jadi proyek mangkrak atau proyek tidak jadi, seperti proyek Esemka dan lain-lain.

Tidak kalah sengit MS Kaban juga mencuit tentang IKN yang dinilainya akan menghabiskan APBN. Dia mengatakan IKN senasib dengan Esemka.

“Pemerintahan Pres Jkwi paksakan bangun IKN dgn APBN yg terseok seok patut disebut egois tidak pro rakyat,rakyat sedang berat menerima beban hidup.Hampir 7 thun berkuasa pemb infrastruktur jg terseok seok berpotensi mangkrak.Berkuasa hnya tinggal menghitung hari.IKN senasab esemka,” cuit MS Kaban dalam akunnya @MSKaban3.

Kenapa kubu ini masih berusaha terus menggoreng isu Esemka? Ada apa sebenarnya dengan Esemka?

Charle Wong, seorang pegiat media sosial mengatakan, saat publik membicarakan Esemka memang tak bisa lepas dari sosok Presiden Joko Widodo. Karena Jokowi yang pertama kali mempopulerkan mobil Esemka kepada khalayak umum. Saat itu Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo.

Ia mulanya memperkenalkan mobil rakitan anak-anak SMK di Solo itu sebagai mobil dinasnya. Berkat SMK, nama Jokowi melambung di bursa pencalonan Pilkada DKI Jakarta 2012 hingga Pilpres 2014.

Jokowi pun hanya menggunakan mobil Kiat Esemka sebagai mobil dinas Wali Kota Solo selama dua hari saja. Setelah itu, mobil itu dikandangkan karena kelengkapan surat-suratnya belum ada.

Mobil tersebut juga mengalami kendala terkait uji emisi hingga masalah permodalan. Pengembangan Esemka menjadi mobil nasional pun akhirnya sudah tidak lagi terdengar sejak Jokowi meninggalkan Solo.

Saat menjabat sebagai Presiden, Jokowi kembali menyinggung mobil Esemka yang akan diupayakan pengembangannya sebagai mobil nasional. Hal itu disampaikan Jokowi saat menjawab tudingan adanya pengembangan mobil nasional selain Esemka di bawah PT Adiperkasa Citra Lestari dengan produsen mobil asal Malaysia, Proton, pada Februari 2015.

Penandatanganan perjanjian antara PT Adiperkasa Citra Lestari dilakukan oleh eks tim sukses Jokowi-Jusuf Kalla, AM Hendropriyono dengan Proton, berlangsung di saat pamor Esemka mulai meredup.

Kerja sama kedua perusahaan ini ditengarai sebagai kelanjutan proyek mobil nasional. Namun, Jokowi mengaku belum memikirkan Proton untuk menjadi mobil nasional. “Belum berpikir ke sana, tapi kalau mobil nasional, brand dan principal-nya itu, ya, Indonesia,” kata Jokowi.

Di akhir masa jabatan periode pertama, Jokowi akhirnya meresmikan pabrik mobil Esemka milik PT Solo Manufaktur Kreasi, di Sambi-Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019) siang.

Kendati demikian dalam persemiannya, Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi Eddy Wirajaya, menjelaskan bahwa Esemka bukan mobil nasional. Sebabnya PT Solo Manufaktur Kreasi murni merupakan badan usaha milik swasta yang pendanaannya tak disokong APBN.

Namun, ia memastikan mayoritas komponen mobil Esemka berasal dari dalam negeri. Tenaga perakitan pun juga diklaim semuanya berasal dari dalam negeri. Jokowi kemudian menjajal mobil pikap Esemka Bima 1.200 cc putih saat peresmian pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka).

Jokowi mengatakan, meski baru produksi pertama, kualitas Esemka Bima dinilai sudah cukup baik.

Saat Ini Mobil pikap Esemka Bima 1.200 cc dibanderol dengan harga Rp 95 juta off the road. “Kalau ada kurang-kurang dikit, ya namanya juga pertama. Tapi sudah sangat bagus untuk produksi pertama,” tutur Jokowi.

Namun, peresmian pabrik Esemka juga sempat memunculkan rumor bahwa pabrik tersebut hanya mendatangkan mobil dari China dan mengganti emblemnya dengan Esemka. Hal ini lantaran adanya beberapa model Esemka yang dari segi desain dan bentuk serupa dengan mobil-mobil asal China.

Eddy Wirajaya pun membantah rumor yang mengatakan produknya merupakan rebadge dari mobil China. Menurut Eddy, kabar tersebut tidak benar karena pabrik Esemka sendiri sudah memiliki ragam fasilitas untuk memproduksi mobil.

“Tidak, tidak benar itu (rebadge). Mobil yang ini kami produksi sendiri, tapi memang ada beberapa komponen yang masih kami impor. Komponen itu dikirim terurai dan kami rakit sendiri di pabrik,” kata Eddy.

SUDAH PRODUKSI MASSAL

Mobil bikinan PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) banyak yang diminati. Pabrik sekaligus diler yang berlokasi di Dusun II, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah (Jateng), ini sudah melakukan produksi massal sejak September 2019.

Selama ini produksi yang dilakukan di pabrik yang memiliki luas 12.500 meter persegi itu masih terbatas untuk tipe Bima 1.2 dan juga Bima 1.3. Meski hanya terbatas untuk dua tipe tersebut, ternyata kendaraan roda empat untuk segmen niaga tersebut mendapatkan respons yang cukup bagus oleh masyarakat.

Terbukti, banyak instansi yang membeli mobil buatan dalam negeri tersebut untuk kendaraan operasional.

Lalu, berapa sih unit yang berhasil dijual oleh PT Esemka sejak memproduksi mobil tersebut?

Menurut Humas PT Esemka Sabar Budi pada 14 Februari 2021 lalu, secara terperinci dirinya belum mengetahui jumlah unit yang sudah terjual ke tangan konsumen. “Kalau untuk unit yang sudah terjual sekitar 300 unit, ke agen,” kata Sabar.

Sementara untuk konsumen yang membeli mobil jenis pikap tersebut sebagian besar adalah dari instansi, meski untuk konsumen perorangan juga tetap ada.

“Memang didominasi dari instansi, tetapi untuk konsumen perorangan juga ada. Tetapi, kebanyakan dari instansi,” ujarnya.

Akan tetapi, sejak pandemi Covid-19 ini, produksi unit dihentikan sementara sehingga tidak ada lagi produk baru. Sedangkan untuk pengerjaan di pabrik perakitan, kata Sabar, hanya untuk perawatan dan bukan memproduksi unit baru.

“Kita menghentikan sementara produksi, kalau unit yang sudah ada ini sudah ada pemesanan dan tinggal pengiriman,” tuturnya, setahun silam.

Jokowi pun sudah memberikan penjelasan mengenai mobil Esemka tersebut. Karena masih terus menjadi pergunjingan publik bahwa dia menggunakan isu mobil Esemka untuk kepentingan politiknya.

“Mobil Esemka itu produk uji coba anak-anak SMK Surakarta dibantu teknisi perusahaan besar,” kata Jokowi lewat akun Twitter resminya, @jokowi, Kamis (25/10/2018).

Mobil Esemka menjadi pembicaraan sejak Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Surakarta. Kini Jokowi telah menjadi Presiden. Sebagai kepala pemerintahan, dia mendukung usaha untuk mewujudkan cita-cita Esemka.

“Sebagai wali kota saat itu saya dukung upaya mereka. Sekarang pun begitu. Industri yang kerjakan, pemerintah hanya mendukung,” kata Jokowi.

“Masak Presiden buat pabrik dan bikin mobil Esemka sendiri,” tandas Jokowi.

“Seperti saat ini, Esemka sudah dikerjakan dan dikembangkan penuh oleh industri tanpa campur tangan pemerintah dalam proses produksinya. Tentu bukan Presiden yang buat pabrik sendiri dan bikin mobil Esemka sendiri,” tuturnya. #

Wartawan: wong

Comments are closed.