HARI ini kita bercerita tentang sumur yang erat kaitannya dengan “Air”. Sebagaimana kita menyadari, air adalah anugerah Tuhan yang sangat berguna bagi kehidupan semua makhluk yang ada di muka bumi.
Air menjadikan tanah subur dan berkesinambungan dalam kehidupan mahluk ciptaanNya. Karena manusia dengan mahluk lainnya tidak dapat mempertahankan kehidupan tanpa air.
Kali ini penulis bersama anggota kelompok Bajadul (Balikpapan Jaman Dulu) menyisir beberapa sumur tua yang hingga kini masih aktif dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Ada dua buah sumur zaman baheula bersejarah, yaitu Sumur Derek dan Sumur Kang Kung (Kilat).
Kedua sumur tua ini berada di lingkungan RT 42 Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat. Penulis mendatangi kedua sumur ini dan mendapatkan cerita-cerita berbau mistis dari warga di sana.
Sumur “Kang Kung” yang artinya adalah “Kilat”, hingga saat ini masih aktif dan dimanfaatkan oleh warga sekitarnya. Sumur ini pondasinya terbuat dari kayu, dan hingga kini kayunya masih utuh seperti terlihat dalam gambar.
Tanda-tanda sumur tua itu masih bermanfaat, di dalam sumur Kang Kung terdapat belasan pipa “paralon” yang menyedot air sumur menggunakan mesin pompa (water pump).
Sumur Kang Kung atau sumur Kilat ini, menurut keterangan beberapa warga sekitar, sudah ada sejak puluhan tahun silam. Kini dimanfaatkan oleh warga karena airnya sangat bersih dan terawat. Bahkan di sana ada papan pengumuman bertuliskan; “Jaga kebersihan. Dilarang mandi pakai sempak”.
Larangan mandi pakai sempak itu mengundang keingintahuan penulis. Karena hal itu berbau mistis. Menurut cerita warga bernama Bahrudin, untuk urusan mandi di sumur itu, tidak boleh sembarangan.
“Sya lahir tahun 1958 dan besar di sini. Dulu orang tua saya pernah bercerita, saat zaman Jepang kawasan di situ dijadikan tempat pembuangan mayat,” ujar Bahruddin.
Masih cerita warga, apabila ada yang melanggar larangan tersebut, maka akan terjadi sesuatu dengan dirinya. Bahkan dampaknya juga pada sumber air sumur tersebut, yaitu akan berubah.
“Mata air yang terdapat di dalam sumur ada lebih empat arah, warna airnya akan berubah seperti warna air susu, karena melanggar pantangan”.
Percaya atau tidak. Kata mereka, air yang tertampung di dalam sumur tersebut akan berubah menjadi keruh (seperti air susu). Sementara untuk menetralkan kembali seperti semula, warga perlu melakukan prosesi seperti memberikan suguhan berupa bubur merah. Seperti dilakukan para orangtua bahari (zamqan dulu).
“Nah, di alam yang sudah modern semacam ini, orang busa saja percaya ataupun tidak. Tapi namun ceritanya memang demikian. Dan jika ingin coba-coba, apakah ini mistis atau fakta, silakan saja”.
Di tempat berbeda, ada ditemukan sebuah sumur “Derek” yang hingga kini menjadi primadona warga sekitarnya. Sumur Derek (Resapan) ini juga sudah ada sejak zaman baheula. Pada era tahun 69-an sumur ini menjadi Primadona warga Balikpapan Barat, karena sumur ini terletak di lingkungan RT 5 Kelurahan Baru Ilir. Tepatnya berada di lereng gunung Gembira.
Air sumur Derek juga menjadi sumber utama memenuhi kebutuhan air minum warga Balikpapan Barat. Dulu para penjual air minum tinggal di lingkungan sumur itu. Sehingga setiap warga yang membutuhkan airnya, dapat berhubungan dengan sejumlah orang penjual air tersebut. Cara mengantarnya dengan diangkut pakai pikul.
Masyarakat Balikpapan masih mengingat bagaimana mengantar air bersih kepada warga menggunakan pikulan. Empat buah kaleng minyak di kiri dan kanan masing-masing membawa dua puluh liter per kaleng.
Setiap satu pikul air harganya Rp5,- pada zaman itu. Walaupun ada sumur-sumur resapan lainya, mutu airnya berbeda, karena agak kekuning-kuningan, sehingga harus dirndapkan terlebih dahulu dengan ditaburi kapur sirih, barulah air tersebut warnanya akan berubah menjadi bening. itupun belum bisa diminum hanya untuk mencuci dan mandi.
Hingga kini sir sumur Derek tersebut masih menjadi pilihan utama untuk kebutuhan air berada di kawasan perbukitan, dan tidak pernah kering walau musim kemarau tiba. Bahkan setiap hari warga masih menggnunakannya baik mandi, mencuci. Masih ada juga warga mengambil air dengan menggunakan cara memikul dengan kaleng, ember maupun jirigen. #
Penulis: Muhammad Asran
Foto-foto di Sumur Derek dan sumur Kang Kung. Foto: dok. M Asran
[metaslider id=”79525″]
1). Anggota Bajadul, Emny Key dan Haji Taty lagi eksen di Sumur tua Derek
2) Tampak Sumur Kang Kung dengan belasan pipa di dalamnya, legend dan mistis.
3) Penulis bersama Sahit salah seorang warga di sini.
4) Sahit menunjukkan sumber air dan kayu aslinya masih utuh, karena awalnya terbuat dari kayu, sedangkan keramik cuma bagian permukaan.