BeritaKaltim.Co

Kepala BPK Lestari: Kebudayaan Tak Bisa Lepas dari Kehidupan

 

BERITAKALTIM.CO-Kebudayaan adalah sebuah nilai-nilai kehidupan yang tidak bisa dilepaskan dari hidup kehidupan masyarakat, sebab dengan kebudayaan manusia bisa belajar dan mengamati akan arti hidup yang ada di sekelilingnya.

Demikian ditegaskan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Lestari, saat membuka Work Shop Kesenian Mamanda di Wadah Bahimung Taman Budaya Kaltim, Rabu (28/8/2024).

Menurut Lestari, Mamanda yang selama ini menjadi salah satu tumpuan dalam hidup kehidupan, bisa dikatakan sudah mulai memudar dan kurang diminati oleh masyarakat luas, karena jarangnya masyarakat menonton pertunjukan Mamanda yang ada di Samarinda atau Kaltim umumnya.

“Karena itu kehadiran Workshop Kesenian Mamanda yang diprakarasai Teater Citra Tepian, merupakan salah satu hal patut didukung dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pelestarian kebudayaan, terpanggil untuk melestarikan dan mengembangkan serta meningkatkan kesenian tradisional tersebut, sehingga bisa kembali dikenal dan dinikmati oleh masyarakat pencinta kebudayaan,” kata Lestari di depan peserta workshop Mamanda yang kebanyakan dari kalangan generasi muda Samarinda.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV yang mencakup Kaltim-Kaltara, ungkap Lestari, akan selalu mendukung kegiatan-kegiatan pelestarian kebudayaan, karena bagi BPK (Balai Pelestarian Kebudayaan) kesenian tradisional yang ada merupakan sebuah perjalanan sejarah sebuah wilayah, sehingga bila kesenian tradisional yang dulunya ada dan berkembang di wilayah tertentu, lalu hilang dan lenyap, maka bisa dikatakan nilai perjalanan sebuah sejarah terputus.

“Terputusnya sebuah nilai sejarah jelas akan merugikan wilayah tersebut. BPK Kaltim-Kaltara tidak ingin hal itu terjadi di Kaltim-Kaltara,” tegas Lestari.

Diakui Lestari untuk menghidupkan dan mengembangkan kembali kesenian Mamanda seperti tahun-tahun 1970-1990, bukanlah pekerjaan mudah, melainkan perlu kesabaran dan kerja keras, namun untungnya Kaltim mempunyai kelompok teater yang sangat peduli terhadap pelestarian nilai-nilai kebudayaan yang tinggi, sehingga Mamanda yang mulai terlupakan kembali diangkat oleh tokoh-tokoh budayawan yang ada di Kaltim, seperti Hamdani, Irwan Darmansyah, H Sahabudin, Arafat A Zulkarnaen dan pekerja seni lainnya.

“Balai Pelestarian Kebudayaan sangat bangga dan bahagia dengan kerja sama yang dilakukan tokoh-tokoh tersebut,” tegas Lestari.

Sementara itu tiga narasumber yang memberikan materi seperti Hamdani, Irwan Darmansyah dan H Sahabudin dengan gamblang menguraikan seluk beluk keberadaan Mamanda dengan lugas, menarik dan penuh pesona.#

Reporter|Editor: Hoesin KH

Comments are closed.