BeritaKaltim.Co

DP3AKB Balikpapan Terjunkan Tim Psikolog ke Rumah Korban Anak Hanyut, Kakak Korban Trauma

BERITAKALTIM.CO-Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) gerak cepat mendatangi rumah korban seorang anak meninggal dunia setelah hanyut di parit, pada hari Selasa, 27 Mei 2025.

DP3AKB Balikpapan mengirimkan tim pendamping, termasuk psikolog dan Tim OTTD, ke rumah korban pada malam hari setelah insiden terjadi, untuk mengatasi dampak psikologis yang dialami kakak kandung korban, yang menyaksikan langsung kejadian itu, sehingga mengalami trauma psikologis serius.

“Kondisi anak sangat mengkhawatirkan. Ia menunjukkan gejala trauma berat, bahkan sempat membenturkan kepala ke dinding karena tak sanggup menahan kesedihan dan rasa bersalah,” ungkap Kepala DP3AKB, Heria Prisni baru-baru ini.

Peristiwa tragis itu terjadi ketika dua bersaudara bermain bersama ketika hujan. Tanpa diduga, arus deras menyeret sang adik masuk ke dalam parit, yang kemudian ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Sang kakak yang mencoba menolong tak mampu melawan derasnya arus air.

Untuk mengatasi dampak psikologis yang dialami, tim pendamping memberikan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Anak dibantu melalui pendekatan yang ramah seperti membaca buku cerita, membuat origami, dan menyediakan makanan ringan, guna menciptakan rasa aman dan nyaman.

“Tujuan utama dari PFA ini adalah menenangkan emosi anak dan membangun kembali rasa kepercayaan dirinya terhadap lingkungan,” jelas Heria.

DP3AKB juga memastikan pendampingan akan dilakukan secara berkelanjutan. Evaluasi lanjutan dijadwalkan awal pekan depan, dan jika belum ada perkembangan signifikan, proses pendampingan akan diperpanjang hingga kondisi anak membaik.

Sementara itu, pihak keluarga, khususnya ibu korban, telah mulai menerima kenyataan meski sempat merasa terpukul dan menyalahkan anak sulungnya atas musibah ini.

“Kami telah memberikan pemahaman kepada orang tua, agar tidak terus mengungkit kejadian di depan anak, demi menghindari trauma yang berkelanjutan,” tambah Heria.

Terkait bantuan, ia menegaskan tidak ada pemberian dana tunai dari pemerintah. Namun, sejumlah relawan dan warga setempat menunjukkan kepedulian secara pribadi. Pendampingan psikologis dari DP3AKB menjadi bentuk intervensi resmi yang terus diupayakan Pemkot.

Heria juga menekankan pentingnya pengawasan orang tua, terutama di lingkungan yang rawan seperti sungai, pantai, atau area terbuka lainnya. “Anak-anak tidak sepenuhnya memahami risiko. Peran orang tua sangat vital dalam menjaga keselamatan mereka. Tragedi ini harus menjadi pelajaran bersama,” pungkasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa upaya perlindungan anak harus menjadi perhatian semua pihak. Edukasi, pengawasan, dan empati adalah kunci mencegah tragedi serupa di masa depan. #

Reporter: Niken |Editor: Wong

Comments are closed.