BeritaKaltim.Co

Persiapan Sekolah Rakyat Rintisan di Kaltim Capai 90 Persen, Launching Pertengahan September

BERITAKALTIM.CO – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mematangkan persiapan pelaksanaan Sekolah Rakyat (SR) Rintisan yang akan dibuka di dua lokasi, yaitu di kawasan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) dan SMA Negeri 16 Samarinda.

Hingga awal September 2025, progres pembangunan dan penyediaan sarana prasarana telah mencapai sekitar 85 hingga 90 persen.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur, Andi Muhammad Ishak, menjelaskan bahwa pembangunan masih ditangani oleh Satuan Kerja (Satker) Kementerian PUPR, dan saat ini tinggal menyelesaikan beberapa komponen penting agar bisa segera diserahterimakan kepada Kementerian Sosial (Kemensos) RI.

“Progresnya belum 100 persen, masih sekitar 85–90 persen. Masih harus disiapkan dulu sampai benar-benar selesai secara keseluruhan,” ujar Andi saat ditemui di lokasi SR Rintisan Di SMAN 16 Samarinda, Selasa (2/9/2025).

Andi mengatakan bahwa setelah pembangunan selesai, sarana dan prasarana akan diverifikasi langsung oleh tim dari Kemensos. Setelah itu, baru bisa dilakukan peresmian operasional yang diawali dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Operasional sekolah rakyat ini sangat tergantung pada seberapa cepat Satker Kementerian PU menyelesaikan sarana dan prasarananya. Kalau sudah lengkap, akan diserahkan ke Kemensos, dan tim dari pusat akan datang langsung untuk mengecek kelayakannya,” jelas Andi.

Andi mengungkapkan bahwa pihaknya juga telah melakukan koordinasi intensif dengan Kemensos melalui grup WhatsApp resmi.

Dalam waktu dekat, direncanakan akan dilaksanakan Zoom Meeting bersama Sekretaris Jenderal Kemensos guna memastikan kesiapan launching Sekolah Rakyat Tahap 1C.

“Diperkirakan pertengahan September, mudah-mudahan sudah bisa dilakukan launching untuk Sekolah Rakyat Tahap 1C di BPVP dan SMA 16,” katanya optimistis.

Meskipun struktur bangunan utama telah selesai, masih ada beberapa kendala teknis yang harus segera diselesaikan.

Salah satunya adalah kebocoran pada bagian atap datar (dak) yang bisa berdampak pada ruang kelas di bawahnya, khususnya ruang kelas untuk jenjang SD.

“Kemarin tim Inspektorat dari Kemensos sudah mengecek, dan ada beberapa bagian yang perlu ditindaklanjuti, terutama dak yang langsung terpapar hujan. Kalau tidak cepat ditangani, dikhawatirkan bocor sampai ke plafon kelas. Ini tentu berisiko bagi siswa yang sedang belajar,” tegasnya.

Pihaknya berharap Satker Kementerian PUPR dapat segera memperbaiki kondisi tersebut sebelum proses verifikasi dan operasional dimulai.

Selain masalah struktur bangunan, fasilitas air bersih juga menjadi perhatian. Instalasi PDAM telah terpasang, namun belum sepenuhnya tersambung ke seluruh bagian bangunan sekolah.

“Alhamdulillah PDAM sudah terpasang dan air sudah keluar. Tinggal instalasi dari meteran ke dalam bangunan yang sedang dikerjakan. Ini penting karena air menjadi kebutuhan dasar untuk seluruh aktivitas sekolah,” jelas Andi.

Ia menambahkan, pihaknya juga masih menunggu keputusan dari Kemensos terkait skema penyediaan konsumsi siswa. Saat ini, ada dua opsi: menggunakan sistem katering atau memasak di tempat.

“Kalau sistemnya memasak, tentu harus disediakan alat masak dan alat makan. Tapi kalau menggunakan katering, mekanismenya berbeda lagi. Kita masih menunggu keputusan dari pusat,” ungkapnya.

Kabar baiknya, seluruh kebutuhan akomodasi dan asrama bagi siswa SD dan SMA, guru, serta wali asuh sudah selesai dan telah terinstalasi di kamar masing-masing.

“Kebutuhan asrama, baik untuk siswa maupun guru dan tenaga pendidik, sudah siap semua. Instalasi dan perlengkapannya juga sudah dipenuhi,” kata Andi.

Dari sisi sumber daya manusia, telah direkrut 31 guru untuk mengajar di dua lokasi sekolah rintisan tersebut. Rata-rata, masing-masing sekolah akan memiliki sekitar 15 orang guru.

“Untuk SMAN 16, kepala sekolahnya sudah ditetapkan dan berasal dari guru SMA 3 Samarinda. Yang bersangkutan juga sudah berkoordinasi dengan kami dan Kepala Sekolah SMAN 16 dalam rangka persiapan pelaksanaan operasional,” tuturnya.

Andi juga menyoroti pentingnya penataan dan pengaturan jadwal penggunaan laboratorium, baik laboratorium IPA maupun laboratorium komputer, yang akan digunakan secara bersama-sama.

“Penggunaan laboratorium ini perlu diatur mekanismenya. Harus ada jadwal dan skema peminjaman agar tidak tumpang tindih,” pungkasnya.

Reporter : Yani | Editor : Wong

Comments are closed.