BERITAKALTIM.CO-Kegiatan awal Capacity Building Wartawan Ekonomi yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan dimulai dengan kunjungan ke Asparagus Kucay dan Sayuran (Aspakusa) Makmur Boyolali, yang berlokasi di Jalan Raya Boyolali-Solo Kilometer 8, Boyolali, Senin (8/9/2025).
Aspakusa yang merupakan binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, menjelma sebagai salah satu pusat sayur segar unggulan dengan omzet lebih dari Rp100 juta per bulan. Aspakusa Makmur Boyolali terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak berdiri pada 10 November 2005.
Manager Lahan Aspakusa, Dwi Lestari Puji Astuti, menjelaskan bahwa pada awal berdiri, kelompok tani ini hanya beranggotakan 30 petani dengan 4 karyawan. Kini, jumlah petani sudah mencapai lebih dari 200 orang, sementara karyawan bertambah menjadi 21 orang. Bahkan, program magang yang dulu hanya terbatas di Boyolali kini meluas hingga Solo, Semarang, dan Yogyakarta.
Aspakusa yang mengusung slogan “Makan Sayur Sehat Lebih Sehat” mendapatkan dukungan dari BI Solo berupa peningkatan SDM, perluasan akses penjualan, serta sarana dan prasarana seperti mobil pendingin dan cold storage. Dukungan ini tidak hanya memperkuat daya saing, tetapi juga mendukung program pengendalian inflasi melalui stabilitas pasokan sayuran.
“Modal sekarang swadaya, omzet per bulan hampir sekitar Rp100 juta. Keuntungan berbeda tiap komoditas, ada yang 25%, tapi ada juga yang hanya 5-10% seperti bayam, kangkung, dan kubis,” terang Dwi kepada Awak Media, termasuk dari Beritakaltim.
Meski menghadapi tantangan, termasuk saat pandemi Covid-19 yang membuat distribusi ke Surabaya terhenti tiga bulan, Aspakusa tetap bertahan dengan menjaga kualitas dan kontinuitas produk. “Kompetitor dari daerah lain banyak, tapi kuncinya kualitas dan ketersediaan. Itu yang membuat kami dipercaya pasar,” ujarnya.
Produk primadona Aspakusa di antaranya asparagus, bayam merah, okra, lencah, serta sayuran bumbu seperti rosemary, coriander, dan daun mint segar. Produk ini banyak diminati hotel, restoran, hingga konsumen asing, meski kurang populer di pasar lokal.
Selain kualitas produk, proses penanganan pascapanen juga diperhatikan. Sayuran dipilih langsung dari petani, dicuci dengan teknologi ozon, lalu dikemas rapi agar tetap segar dan tahan lama.
Sejak 2007, Aspakusa mulai melayani pasar ritel, dengan pangsa terbesar di Surabaya. “Alhamdulillah, kebutuhan pasar sesuai permintaan bisa kami penuhi 100%. Item produk yang kami sediakan juga semakin beragam,” tambah Dwi.
Aspakusa juga memiliki visi meningkatkan kesejahteraan petani melalui hortikultura premium, serta misi memperluas produk, membuka peluang pasar, memperkuat kelembagaan, hingga menjadi pusat pelatihan dan informasi. Program kerja pun disusun mulai jangka pendek (1 tahun), menengah (2 tahun), hingga panjang (5 tahun).
Atas capaian tersebut, Aspakusa Makmur Boyolali telah meraih berbagai sertifikat penghargaan. Semua pencapaian ini tidak lepas dari peran penting pemerintah dalam pendampingan, pelibatan pameran, hingga dukungan sarana dan prasarana.
“Harapan kami, semakin banyak petani bergabung dan hasilnya terserap lebih besar. Kalau produksi meningkat, kesejahteraan petani maupun pekerja di Aspakusa juga makin terjamin,” pungkas Dwi. #
Reporter: Niken | Editor: wong
Comments are closed.