Oleh : Herliana Tri M
KASUS bunuh diri yang semakin banyak terjadi di lingkungan masyarakat. Baik kasus tersebut terblow up media ataupun tidak. Bahkan kasus yang tak terliput lebih besar angkanya. Bisa mencapai angka 300 % peningkatan angka sebenarnya. Salah satu kasus di masyarakat yang sempat menghebohkan warga sekitar adalah dengan ditemukannya seorang pria tanpa identitas meninggal gantung diri di lahan kosong di Kelurahan Kedung Badak, Tanah Sareal, Kota Bogor. Pada saat ditemukan wajah korban sudah tidak bisa dikenali (detiknews.com, 22/09/2025)
Kapolsek Tanah Sareal Kompol Doddy Rosjadi mengatakan jasad korban pertama kali ditemukan oleh Ketua RW dan warga sekitar sekitar pukul 09.00 WIB. Penemuan bermula dari kecurigaan warga yang mencium bau tidak sedap di sekitar lokasi.
Dilansir Kompas.com, 24/6/2025 juga mengungkap kasus serupa, yakni bunuh diri yang terjadi di Bogor. Seorang perempuan berusia 30 tahun di Bogor Utara, Kota Bogor, ditemukan tewas tergantung di dalam kamar tidurnya, Senin (23/6/2025). Kasie Humas Polresta Bogor Kota Ipda Eko Agus mengatakan, perempuan tersebut nekat mengakhiri hidupnya karena terlilit utang.
Kasus diatas menambah deretan panjang kasus bunuh diri. Yang secara angka diatas kertas, pada tahun 2024, tercatat 849 kasus bunuh diri di Indonesia, dengan hampir 32% di antaranya terkait masalah ekonomi.
Penyebab Bunuh Diri
Angka kasus bunuh diri di Indonesia melonjak naik dan didominasi oleh remaja dengan usia di bawah 15 tahun. Permasalahan pada remaja didominasi oleh tekanan akademik dan bullying, menjadi faktor bagi remaja nekat mengakhiri hidupnya.
Berdasarkan grafiknya, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan angka bunuh diri ini. Dalam satu bulan saja, ada 3-4 kasus bunuh diri yang mayoritas melibatkan anak-anak muda di bawah 15 tahun. Banyak siswa SMP mengalami tekanan akibat beban akademik yang tinggi, ditambah dengan isu bullying.
Bagi masyarakat umum, penyebab tingginya angka bunuh diri didominasi oleh tekanan hidup. Kesulitan mendapatkan penghidupan yang layak, angka utang yang terus bertambah dan tak mampu meyelesaikan, tanggungan dan beban hidup yang terus bertambah, merasa sendiri tak ada tempat mengadu dan menyelesaikan masalahnya. Ini adalah bagian rumit yang tak mampu dipecahkan oleh individu-individu sampai batas keputusan akhir ia mengambil langkah pintas dengan mengakhiri hidupnya.
Individualisme Yang Merusak
Hidup egois, memikirkan hidupnya sendiri dan keluarga, tak mau merepotkan dan direpotkan orang lain seolah menjadi pilihan tepat untuk meminimalisir konflik dengan pihak lain.
Individualisme tumbuh subur di era penerapan sistem kapitalis saat ini. Beberapa kondisi yang turut berperan menumbuhsuburkan paham individualisme di tengah masyaraka. Pertama, kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Kondisi ekonomi yang melambat, jumlah pencari kerja lebih tinggi dibandingkan lapangan pekerjaan yang tersedia, dapat mendorong sikap individualis semakin nyata dalam masyarakat komunal saat ini. Persaingan ketat untuk mendapatkan penghidupan yang layak, kerap kali membuat banyak orang fokus dalam meningkatkan kualitas pribadi serta abai pada kondisi sekitarnya.
Kedua, kesibukan tinggi, di tengah himpitan ekonomi. Di zaman yang serba sibuk, jam kerja yang relatif panjang bagi karyawan, ditambah mengambil job tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, menjadikan semakin banyak orang tenggelam dalam kesibukan masing-masing sehingga kerap kali tidak memperhatikan sekitarnya. Ibarat kata berangkat pagi pulang petang, sebagai pemandangan biasa pada masyarakat saat ini
Kondisi yang terjadi secara konstan, kebiasaan tersebut dapat membuat penurunan toleransi sosial yang membuat seseorang mengadopsi paham individualisme secara natural. Berlahan namun pasti menjadi kewajaran yang dimaklumi.
Ketiga, interaksi digital yang massif. Berkembangnya teknologi secara pesat membuat interaksi digital kini menjadi hal yang tak sekedar normal, namun seolah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi. Selain sisi positifnya dalam hal memudahkan penyampaian informasi, interaksi digital juga berisiko mengurangi tatap muka atau sosialisasi langsung. Hal tersebut dapat memunculkan benih-benih individualisme yang mengurangi rasa kepedulian terhadap sesama.
Individualisme Menyalahi Fitrah, Meningkatkan Peluang Depresi
Individualisme di era kapitalis ini telah menumbuhsuburkan kerentanan mental masyarakat. Masyarakat yang rapuh, mudah putus asa, mudah menyerah terhadap keadaan, perasaan sepi ditengah hiruk pikuknya dunia. Fakta ego tinggi yang menghantarkan pada lemahnya mental masyarakat, bertentangan dengan posisi manusia sebagai makhluk sosial.
Manusia adalah makhluk sosial (homo socius) karena tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan interaksi serta hubungan dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhan, berkembang, bersosialisasi, membentuk komunitas dan lain-lain. Konsep ini menjelaskan bahwa individu bergantung pada orang lain, saling membutuhkan, dan hidup dalam kelompok yang memiliki kesadaran dan interaksi bersama.
Menipisnya interaksi sosial masyarakat dengan semakin individualismenya interaksi menjadikan penyakit psikis mudah menghinggapi. Apalagi ego individualis ini berada dalam penerapan ekonomi kapitalis yang menjadikan pemilik modal memiliki peluang lebih besar untuk menguasai kekayaan alam. Kondisi ini menciptakan akses pemanfaatan kekayaan dan sumber daya alam terbatas, hanya segelintir orang saja yang mampu. Yang lainnya? harus bersiap dengan berebut tetesan- tetesan ekonomi.
Individualisme berada dalam tatanan ekonomi yang sulit menjadikan peluang depresi lebih tinggi. Mudah putus asa dan mengambil jalan pintas saat hidup terasa tak mudah.
Mengembalikan Manusia Sesuai Fitrahnya
Sudah saatnya lingkungan kapitalis yang tak kondusif ini ditinggalkan. Islam telah menyatukan umat ini dalam ikatan aqidah yang kuat. Menjadikan ikatan persaudaraan tak sebatas ikatan darah, bahkan ikatan aqidah keimanan menjadikan ikatan kuat seorang muslim untuk dapat meraih kemuliaan sebagai makhluk sosial. Saling membantu, memudahkan urusan orang lain, saling mengingatkan dalam bentuk amar makruf nahi mungkar menjadi bagian dari kasih sayang seorang muslim.
Interaksi makhluk sosial dilandasi ikatan persaudaraan karena Allah, mampu meminimalisir tingginya angka bunuh diri. Aqidah sebagai landasan hidup akan menguatkan individu- individu menghadapi tekanan hidup yang tak mudah. Ditambah masyarakat yang menyokong dan saling menguatkan. Tentu semua ini tak serta merta terjadi. Butuh kebijakan negara untuk mengembalikan manusia sebagai makhluk sosial serta keterlibatan secara penuh negara dalam memperbaiki ekonomi rakyatnya. Ini adalah bagian penting mengurangi tekanan yang ada dalam masyarakat karena lilitan hidup ditengah ekonomi yang sulit. #
Comments are closed.