BERITAKALTIM.CO-Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan kinerja impresif pada triwulan III 2025, terutama setelah dikalkulasi tanpa menyertakan sektor pertambangan dan penggalian.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi NTB tumbuh 7,86 persen secara tahunan dan 4,36 persen secara kuartalan di luar sektor tambang. Sebaliknya, jika sektor tambang ikut dihitung, pertumbuhan hanya mencapai 2,82 persen secara tahunan.
Kepala Biro Ekonomi Setda NTB Najamuddin Amy menyebut, capaian tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi daerah kini bertumpu pada aktivitas produktif masyarakat di 16 lapangan usaha non-tambang. “NTB bisa tumbuh tanpa bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang merusak,” ujarnya.
Sektor-sektor yang menopang pertumbuhan terbesar datang dari pertanian, kehutanan, dan perikanan, yang menyerap sekitar 35,37 persen tenaga kerja atau satu juta orang. Disusul sektor perdagangan besar dan eceran (19,05 persen) serta industri pengolahan (10,25 persen). Sebaliknya, pertambangan hanya menampung sekitar 1,33 persen tenaga kerja.
Kepala BPS NTB Wahyudin menegaskan, kontraksi yang sempat terjadi di awal tahun tak berdampak signifikan pada daya beli maupun kemiskinan karena hanya sektor tambang yang tertekan. “Hampir seluruh lapangan usaha lain tumbuh positif,” katanya.
Ekonomi Berkeadilan dan Berkelanjutan
Para ekonom menilai, ketergantungan terhadap tambang hanya menciptakan pertumbuhan semu karena tidak berkontribusi terhadap struktur ekonomi jangka panjang. Ekonom Universitas Mataram Iwan Harsono mengatakan, “Dengan APBD hanya sekitar Rp25 triliun, pembangunan harus mendorong partisipasi swasta, terutama di sektor pertanian dan pariwisata.”
NTB sebagai provinsi maritim dengan 401 pulau dan dua gunung berapi memiliki potensi besar untuk diversifikasi ekonomi. Sektor pertanian dan perikanan menjadi kunci ketahanan pangan, sementara pariwisata berbasis komunitas membuka peluang pemerataan kesejahteraan.
Salah satu contohnya, ekowisata Bale Mangrove Jerowaru di Lombok Timur mampu menghasilkan Rp50–100 juta per bulan. Model ini membuktikan bahwa ekonomi berbasis ekologi dan partisipasi masyarakat mampu berjalan beriringan.
Manusia sebagai Pusat Pertumbuhan
Pembangunan ekonomi, kata Iwan, sejatinya berakar pada manusia. Karena itu, investasi terbesar seharusnya diarahkan pada pendidikan vokasi, kewirausahaan, dan literasi keuangan agar masyarakat bisa mengelola sumber daya lokal secara mandiri.
Pemerintah juga didorong menggandeng kampus dan lembaga riset untuk melahirkan inovasi berbasis kearifan lokal, seperti pengembangan pertanian organik di kaki Rinjani atau budidaya perikanan berkelanjutan di Sumbawa.
Seperti Yogyakarta yang menempatkan budaya dan manusia sebagai pusat ekonomi kreatif, NTB pun memiliki potensi besar melalui sentra tenun Sukarara, gerabah Banyumulek, hingga perahu pinisi Pulau Sangeang. Hanya saja, kawasan-kawasan ekonomi kreatif itu belum sepopuler destinasi alam seperti Gili Trawangan atau Sirkuit Mandalika.
Ke depan, NTB diharapkan mampu membangun ekosistem wisata yang memuliakan manusia dan identitas lokal, agar setiap aktivitas ekonomi tidak sekadar berorientasi keuntungan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai budaya dan kemandirian daerah.
ANTARA|Wong|Ar
Comments are closed.