BERITAKALTIM.CO – Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa peluang atau probabilitas penemuan cadangan migas di Indonesia meningkat signifikan hingga mencapai 30 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding beberapa tahun lalu yang hanya sekitar 10 persen atau satu dari sepuluh sumur eksplorasi berhasil menemukan cadangan migas baru.
“Kalau dulu indeksnya satu banding sepuluh, sekarang sudah 30 persen. Jadi, dari sepuluh sumur yang dibor, insya Allah tiga di antaranya akan menemukan migas,” ujar Djoko Siswanto dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Masih Banyak Cekungan Migas Belum Dieksplorasi
Djoko menjelaskan, Indonesia masih memiliki puluhan cekungan migas potensial yang belum dieksplorasi. Namun, hambatan utama yang dihadapi adalah masalah perizinan dan keterbatasan anggaran eksplorasi.
“Perizinan sudah kami upayakan untuk dipercepat, tapi yang paling penting adalah pendanaan eksplorasi. Saat ini tidak ada satu pun bank dalam negeri yang mau membiayai kegiatan eksplorasi karena risikonya besar,” katanya.
Hingga saat ini, total anggaran eksplorasi migas nasional baru mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS, jumlah yang masih dinilai sangat minim untuk mendukung target peningkatan produksi jangka panjang.
Belajar dari Inggris dan Malaysia
Untuk mengatasi masalah pendanaan eksplorasi, SKK Migas mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan model pendanaan seperti yang diterapkan di Inggris dan Malaysia.
Djoko menyebut, British Petroleum (BP) di Inggris pernah mengalokasikan seluruh pendapatan sektor hulu migas untuk kegiatan eksplorasi hingga akhirnya menemukan ladang gas besar di kawasan Inggris Timur Laut.
Hal serupa juga dilakukan oleh Petronas di Malaysia, yang menggunakan sebagian hasil kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) untuk mendanai eksplorasi migas baru.
“Indonesia bisa belajar dari Inggris dan Malaysia. Mereka berani mengambil risiko eksplorasi demi kemandirian energi,” ujar Djoko.
Produksi Migas Indonesia Menurun, Impor Masih Tinggi
Djoko mengingatkan bahwa Indonesia pernah mencapai produksi puncak sebesar 1,6 juta barel setara minyak per hari (BOEPD) beberapa dekade lalu.
Namun kini, produksi nasional menurun drastis sementara konsumsi energi domestik terus meningkat.
“Dulu kita mengekspor sekitar 1 juta barel per hari dan menjadi negara anggota OPEC. Sekarang kebalikannya, kita justru impor besar-besaran, termasuk LPG yang mencapai hampir 80 persen kebutuhan nasional,” ungkapnya.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah telah menerapkan program biodiesel B30 dan B35 yang disebut berhasil menekan impor solar.
“Ke depan, sesuai arahan Menteri ESDM Pak Bahlil Lahadalia, Indonesia tidak akan impor solar lagi. Sementara untuk bensin, akan dikembangkan bioetanol, biofuel, kendaraan listrik, hingga hidrogen,” kata Djoko.
Dorongan Menuju Kemandirian Energi Nasional
SKK Migas menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat kegiatan eksplorasi dan penemuan cadangan baru melalui kerja sama dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan investor global.
Djoko menilai, keberhasilan peningkatan peluang temuan migas hingga 30 persen adalah indikasi positif bagi masa depan energi Indonesia, asalkan didukung dengan kebijakan fiskal dan investasi yang memadai.
“Peningkatan discovery rate ini menjadi kabar baik. Tapi tanpa dukungan dana dan regulasi yang cepat, sulit untuk mewujudkan kemandirian energi,” tutupnya.
ANTARA | wong
Comments are closed.