BeritaKaltim.Co

Kaltim Masih Defisit Beras, Pemerintah Genjot Optimalisasi dan Cetak Sawah Baru

‎BERITAKALTIM.CO – Kebutuhan beras di Kalimantan Timur (Kaltim) masih belum sepenuhnya terpenuhi. Data tahun 2024 menunjukkan produksi daerah ini masih tertinggal dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat.

‎Kepala Dinas Peternakan dan kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Fahmi Himawan menjelaskan Berdasarkan paparan terbaru, kebutuhan beras Kaltim pada 2024 mencapai sekitar 379.000 ton. Namun produksi yang mampu dipenuhi baru sekitar 145.290 ton. Dengan demikian, provinsi ini masih mengalami kekurangan sekitar 234.000 ton.

‎”Jika ditarik lebih jauh, tren penurunan produksi sempat terjadi sejak 2020 hingga berdampak pada besarnya defisit pada 2024 tersebut,” ujar Fahmi pada saat di wawancarai, Sabtu (28/02/2026)

‎Lebih lanjut, memasuki 2025, kondisi mulai membaik. Produksi beras Kaltim meningkat dari sekitar 145.000 ton menjadi 177.000 ton. Meski begitu, kebutuhan masyarakat juga naik menjadi sekitar 400.000 ton.

‎“Artinya masih ada defisit sekitar 222.000 ton pada 2025,” ungkapnya

‎Selain itu, untuk menutup kekurangan itu, pemerintah menghitung kebutuhan perluasan sawah. Dengan asumsi produktivitas rata-rata 4,3 ton per hektare, defisit ratusan ribu ton itu membutuhkan tambahan lahan yang cukup besar.

‎Kendati demikian, selama kebutuhan belum terpenuhi, Kaltim masih mengandalkan pasokan dari luar daerah. Kondisi ini dinilai wajar karena sejak lama Kaltim bukan daerah lumbung pangan.

‎“Secara nasional memang dijaga. Daerah yang surplus bisa memasok daerah yang defisit seperti Kaltim,” ucapnya.

‎Meski begitu, ia menegaskan tren kekurangan beras di Kaltim perlahan terus menurun seiring peningkatan produksi.

‎Fahmi juga mengatakan bahwa dalam pertemuan panen raya bersama pemerintah pusat, disampaikan bahwa target nasional ke depan bukan hanya swasembada, tetapi juga ekspor beras jika seluruh daerah sudah surplus.

‎”Namun untuk Kaltim, fokus saat ini masih mengejar pemenuhan kebutuhan sendiri melalui, optimalisasi lahan (oplah), rehabilitasi jaringan sawah, cetak sawah baru,” katanya

‎Kemudian, upaya cetak sawah baru tidak mudah. Pemerintah menghadapi keterbatasan lahan karena banyak wilayah telah berstatus HGU, kawasan hutan, maupun perizinan lain.

‎“Yang paling memungkinkan sebenarnya optimalisasi dan rehabilitasi,” pesannya

‎Sayangnya, program rehabilitasi pada 2026 tertahan karena kebijakan pemerintah pusat yang memprioritaskan tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

‎”Usulan rehabilitasi sekitar 6.000 hektare dari kabupaten/kota di Kaltim pun belum dapat direalisasikan,” imbuhnya

‎Sebagai langkah realistis, Kaltim akan fokus pada program cetak sawah baru. Saat ini, dokumen SID (Survey, Investigasi, dan Desain) yang sedang berproses mencakup total 2.460 hektare. Rinciannya ‎Kaltim Masih Defisit Beras, Pemerintah Genjot Optimalisasi dan Cetak Sawah Baru

‎Beritakaltim.co – Kebutuhan beras di Kalimantan Timur (Kaltim) masih belum sepenuhnya terpenuhi. Data tahun 2024 menunjukkan produksi daerah ini masih tertinggal dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat.

‎Kepala Dinas Peternakan dan kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Fahmi Himawan menjelaskan Berdasarkan paparan terbaru, kebutuhan beras Kaltim pada 2024 mencapai sekitar 379.000 ton. Namun produksi yang mampu dipenuhi baru sekitar 145.290 ton. Dengan demikian, provinsi ini masih mengalami kekurangan sekitar 234.000 ton.

‎”Jika ditarik lebih jauh, tren penurunan produksi sempat terjadi sejak 2020 hingga berdampak pada besarnya defisit pada 2024 tersebut,” ujar Fahmi pada saat di wawancarai, Sabtu (28/02/2026)

‎Lebih lanjut, memasuki 2025, kondisi mulai membaik. Produksi beras Kaltim meningkat dari sekitar 145.000 ton menjadi 177.000 ton. Meski begitu, kebutuhan masyarakat juga naik menjadi sekitar 400.000 ton.

‎“Artinya masih ada defisit sekitar 222.000 ton pada 2025,” ungkapnya

‎Selain itu, untuk menutup kekurangan itu, pemerintah menghitung kebutuhan perluasan sawah. Dengan asumsi produktivitas rata-rata 4,3 ton per hektare, defisit ratusan ribu ton itu membutuhkan tambahan lahan yang cukup besar.

‎Kendati demikian, selama kebutuhan belum terpenuhi, Kaltim masih mengandalkan pasokan dari luar daerah. Kondisi ini dinilai wajar karena sejak lama Kaltim bukan daerah lumbung pangan.

‎“Secara nasional memang dijaga. Daerah yang surplus bisa memasok daerah yang defisit seperti Kaltim,” ucapnya.

‎Meski begitu, ia menegaskan tren kekurangan beras di Kaltim perlahan terus menurun seiring peningkatan produksi.

‎Fahmi juga mengatakan bahwa dalam pertemuan panen raya bersama pemerintah pusat, disampaikan bahwa target nasional ke depan bukan hanya swasembada, tetapi juga ekspor beras jika seluruh daerah sudah surplus.

‎”Namun untuk Kaltim, fokus saat ini masih mengejar pemenuhan kebutuhan sendiri melalui, optimalisasi lahan (oplah), rehabilitasi jaringan sawah, cetak sawah baru,” katanya

‎Kemudian, upaya cetak sawah baru tidak mudah. Pemerintah menghadapi keterbatasan lahan karena banyak wilayah telah berstatus HGU, kawasan hutan, maupun perizinan lain.

‎“Yang paling memungkinkan sebenarnya optimalisasi dan rehabilitasi,” pesannya

‎Sayangnya, program rehabilitasi pada 2026 tertahan karena kebijakan pemerintah pusat yang memprioritaskan tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

‎”Usulan rehabilitasi sekitar 6.000 hektare dari kabupaten/kota di Kaltim pun belum dapat direalisasikan,” imbuhnya

‎Sebagai langkah realistis, Kaltim akan fokus pada program cetak sawah baru. Saat ini, dokumen SID (Survey, Investigasi, dan Desain) yang sedang berproses mencakup total 2.460 hektare rinciannya, 2.091 hektare di Kabupaten Berau dan ‎369 hektare di Kutai Barat.

‎Lahan yang dipilih harus memenuhi syarat teknis, terutama kemiringan di bawah 8 persen serta memiliki sumber air memadai karena yang dikembangkan adalah sawah irigasi, bukan padi ladang.

‎”Pemerintah berharap langkah bertahap ini mampu terus menekan defisit beras Kaltim dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya.

SANDI | WONG ‎

 

Comments are closed.