BERITAKALTIM.CO – Tingkat kemiskinan di kabupaten dan kota di Kalimantan Timur dalam lima tahun terakhir menunjukkan ketimpangan antarwilayah yang masih cukup tinggi, meskipun secara umum angka kemiskinan provinsi terus mengalami penurunan.
Kepala Dinas Sosial Kalimantan Timur, Andi Muhammad Ishak mengatakan penanganan kemiskinan tidak dapat hanya dilihat dari capaian angka di tingkat provinsi, melainkan harus dicermati hingga level kabupaten dan kota.
“Kalau dilihat lebih rinci, masing-masing daerah punya karakteristik berbeda. Karena itu pendekatan penanganannya juga tidak bisa disamaratakan,” ungkapnya saat diwawancarai di kantor dinas sosial Kaltim, Kamis (7/5/2026).
Lebih lanjut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur periode 2021–2025, Kabupaten Kutai Kartanegara secara konsisten menjadi daerah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi pada 2025, jumlah penduduk miskin di wilayah tersebut tercatat mencapai 54,99 ribu jiwa.
Kendati demikian, posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kutai Timur dengan 34,91 ribu jiwa, disusul Kota Samarinda sebesar 30,45 ribu jiwa. Ketiga daerah tersebut menjadi penyumbang terbesar angka kemiskinan di tingkat provinsi dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, beberapa daerah mencatat angka kemiskinan relatif rendah. Kabupaten Mahakam Ulu menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit, yakni 2,73 ribu jiwa pada 2025. Kemudian Kota Bontang sebesar 6,18 ribu jiwa dan Kabupaten Penajam Paser Utara sebanyak 9,34 ribu jiwa.
Selain itu, data juga mencatat jumlah penduduk miskin di Kabupaten Berau mencapai 10,96 ribu jiwa, Kabupaten Paser sebesar 24,05 ribu jiwa, Kabupaten Kutai Barat sebanyak 13,24 ribu jiwa, serta Kota Balikpapan sebesar 12,88 ribu jiwa.
Dalam rentang 2021 hingga 2025, tren penurunan jumlah penduduk miskin terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota, meskipun dengan laju yang berbeda-beda. Pada 2021, jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur tercatat sebesar 241,77 ribu jiwa.
Angka tersebut kemudian turun menjadi 236,25 ribu jiwa pada 2022, 231,07 ribu jiwa pada 2023, 221,34 ribu jiwa pada 2024, hingga mencapai 199,71 ribu jiwa pada 2025.
Penurunan tersebut juga diikuti dengan membaiknya persentase tingkat kemiskinan dari 6,54 persen pada 2021 menjadi 5,17 persen pada 2025.
Menurut Andi, capaian itu tidak terlepas dari kombinasi intervensi pemerintah dan membaiknya kondisi ekonomi daerah, termasuk peningkatan konsumsi rumah tangga serta aktivitas sektor unggulan.
Ia menjelaskan, faktor geografis dan luas wilayah menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kemiskinan di beberapa daerah. Wilayah dengan cakupan luas dan akses terbatas cenderung menghadapi tantangan lebih besar dalam pemerataan pembangunan maupun distribusi bantuan sosial.
“Daerah seperti Kutai Kartanegara dan Kutai Timur memiliki wilayah yang luas, sehingga membutuhkan strategi khusus agar program bisa menjangkau seluruh masyarakat,” jelasnya.
Selain faktor wilayah, struktur ekonomi daerah juga turut memengaruhi tingkat kemiskinan. Ketergantungan terhadap sektor tertentu membuat sebagian daerah lebih rentan terhadap fluktuasi ekonomi, terutama sektor pertambangan, perkebunan, dan sektor berbasis sumber daya alam lainnya yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Kalimantan Timur.
Meski angka kemiskinan terus menurun, Andi menegaskan tantangan utama pemerintah ke depan adalah memastikan penurunan tersebut terjadi secara merata di seluruh wilayah.
“Fokus kami sekarang bukan hanya menurunkan angka secara agregat, tetapi juga memastikan tidak ada daerah yang tertinggal,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan basis data melalui pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) terus dilakukan guna meningkatkan akurasi sasaran program bantuan dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah kabupaten dan kota juga diperkuat untuk mendorong program pemberdayaan ekonomi yang disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah.
“Pendekatannya harus spesifik per daerah. Dengan begitu, intervensi yang dilakukan bisa lebih efektif dan berdampak langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.
SANDI | WONG
Comments are closed.