BERITAKALTIM.CO – Maraknya keluhan para orang tua terkait harga buku paket yang mahal semakin mencuat di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Banyak orang tua merasa terbebani dengan tingginya harga buku yang menjadi kebutuhan wajib bagi anak-anak mereka di sekolah. Situasi ini menjadi semakin sulit bagi orang tua yang tidak mampu atau bahkan yang tidak memiliki pekerjaan tetap.
Adakah Praktik Jual Beli Buku di Sekolah?Menanggapi keluhan ini, muncul pertanyaan tentang adanya praktik jual beli buku di sekolah-sekolah di Samarinda.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Puji Setyowati, memberikan tanggapannya terkait isu ini. saat di temui di DPRD provinsi Kalimantan Timur, Rabu (31/7/2024).
“Kami sedang menelusuri dugaan adanya praktik jual beli buku di sekolah. Harapan kita memang harus ada solusi bagi yang tidak mampu. Intinya, kita ingin memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak kita. Kalau pendidikan dipersulit dengan harga buku yang mahal, itu pasti berpengaruh secara psikis,” ujar Puji.
Legislator fraksi partai demokrat ini menegaskan, pentingnya mencari solusi yang tepat untuk masyarakat yang tidak mampu. Seperti BOSNAS (Bantuan Operasional Sekolah Nasional) dan BOSDA (Bantuan Operasional Sekolah Daerah)
“Seharusnya ada win-win solution bagi masyarakat yang tidak mampu. Ada BOSNAS (Bantuan Operasional Sekolah Nasional) dan BOSDA (Bantuan Operasional Sekolah Daerah) yang bisa dipakai untuk subsidi anak-anak yang tidak mampu. Namun, data penerima bantuan harus valid dan tidak dimanipulasi,” lanjutnya.
Ia juga menekankan pentingnya menyesuaikan kebijakan dengan kondisi orang tua murid. Apakah ini nantinya menjadi beban sehingga anak-anak yang tidak mampu akan putus sekolah.
“Kan sudah ada instruksi dalam rangka merdeka belajar, tidak boleh ada kata mewajibkan pembelian buku paket. Kita harus melihat kondisi orang tua secara detail dan merumuskan solusi yang tepat,” tambahnya.
Puji juga mengingatkan dampak psikis yang dapat ditimbulkan dari permasalahan ini. Menurutnya Pendidikan itu sensitif, Jangan sampai masalah ini berpengaruh terhadap proses belajar mengajar atau psikis anak-anak.
“Kita harus melindungi kedua sisi, baik guru maupun murid. Jika gurunya merasa terbebani, bagaimana proses belajar mengajar bisa efektif? Begitu juga jika muridnya tidak mau sekolah karena tidak mampu membeli buku,” jelasnya.
Lebih lanjut Puji mendorong masyarakat yang tidak mampu untuk mengajukan beasiswa. Kalau ada yang tidak mampu membeli buku, bisa ajukan beasiswa. Dengan beasiswa, kebutuhan membeli buku bisa teratasi.
“Kami akan terus mendorong agar masyarakat yang tidak mampu dapat mengakses beasiswa sehingga tidak ada hambatan dalam pendidikan anak-anak mereka,” pungkasnya.
Dengan adanya perhatian dan langkah-langkah konkret dari pihak terkait, diharapkan masalah harga buku yang mahal ini dapat segera diatasi, sehingga tidak ada lagi orang tua yang merasa terbebani dan anak-anak dapat belajar dengan tenang dan optimal. #
Reporter: Yani | Editor: Wong
Comments are closed.