BeritaKaltim.Co

Hamdani Mengupas Sejarah Mamanda dengan Menarik

BERITAKALTIM.CO-Budayawan sekaligus tokoh teater Kalimantan Timur Hamdani, mengupas sejarah kesenian tradisionil Mamanda dengan menarik.

Gaya dan komunikasi Hamdani yang demikian akrab itu  membuat generasi muda, peserta workshop Kesenian Mamanda yang ada di Wadah Bahimung Taman Budaya terpukau dan terpaku, Rabu (28/8/2024).

Workshop Kesenian Mamanda yang digelar di Taman Budaya Kaltim tersebut, merupakan kegiatan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi Direktorat Jendral Kebudayaan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kaltim-Kaltara dan Teater Citra Tepian Samarinda yang dipimpin Arafat A Zulkarnaen.

Dengan penampilan yang khas, baju hitam, celana hitam dan topi, Hamdani penerima anugerah kebudayaan Kaltim Tahun 2022, menceritakan seluk beluk awal kedatangan Kesenian mamanda dari Kalimantan Selatan yang kemudian berkembang di Kaltim hingga tahun 1990-an.

Awalnya Mamanda yang merupakan kesenian tradisionil tidak mengenal naskah, semua cerita yang dipentaskan mengacu pada cerita tentang hidup kehidupan kesultanan yang ada di Timur Tengah, dilakukan secara improvisasi, pemimpin Mamanda atau kerennya disebut sutradara, tinggal bercerita kepada pemeran-pemeran yang ada dan menunjuk siapa pemeran Harapan 1, Harapan 2, Panglima Perang, Perdana Menteri, Sultan, Permaisuri, Puteri Sultan atau Anak Sultan dan Hadam.

Diakui Hamdani, kemampuan pemeran-pemeran yang ada saat itu boleh dikatakan sangat kuat dalam improvisasi.

Hanya saja lanjut Hamdani, perkembangan Mamanda di Kaltim yang dulunya berjaya dan berkibar, namun di akhir-akhir tahun 2000 an, Mamanda mulai ditinggalkan dan dilupakan, hanya beberapa tokoh teater yang sepertinya prihatin atas perkembangan Mamanda, kemudian mencoba untuk mengatasi permasalahan Mamanda.

“Saat itu di tahun 1970-hingga 1990-an ada beberapa grup Mamanda yang sangat populer dan selalu ditunggu kemunculannya dalam pementasan, seperti Group Mamanda Kakamban Habang milik Sattar Miskan, Mamanda Mesra, Mamanda Rindang dan juga Mamanda Batu Benawa yang dipimpin almarhum Johansyah Balham,” kata Hamdani.

Permasalahan yang dihadapi Mamanda itu yang mulai dilupakan dan ditinggalkan itulah, membuat Teater Citra Tepian di bawah pimpinan Arfat A Zulkarnaen tergerak untuk menghidupkan kembali kejayaan Mamanda, dan kalau perlu dikembangkan serta menjadikan Mamanda menjadi sebuah tontonan yang ditunggu masyarakat.

Diharapkan Hamdani, dengan adanya work shop Kesenian Mamanda ini, kiprah Mamanda dalam dunia kesenian kembali berkibar dan menarik generasi muda untuk mengembangkan Mamanda dan melestarikan menjadi sebuah tontonan yang ada, kalau perlu setiap tahun ada Parade Mamanda di Kaltim.

“Dengan adanya parade Mamanda yang dilakukan secara rutin, maka bukan tidak mungkin Mamanda bisa kembali berjaya,” ungkap Hamdani.#

Editor: Hoesin KH

Comments are closed.