BERITAKALTIM.CO-Bupati Kutai (Kukar) Edi Damansyah memimpin upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama yang mengusung tema “Umat Rukun Menuju Indonesia Emas”, dihadiri oleh Kepala Kemenag Kukar H Nasrun, Ketua Pengadilan Agama Samsul Bahri, Ketua MUI Kabupaten Kukar KH Abdul Hanan, Kemenag Kukar dan Siswa MTSN 1 Tenggarong, berlangsung di MTSN 1 Tenggarong, Jumat (3/1/25).
Dalam sambutan Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar yang disampaikan Edi Damansyah tepatnya 3 Januari 1946, Kementerian Agama secara resmi dibentuk dalam Kabinet Sjahrir II dengan Menteri Agama Pertama HM Rasjidi.
Momen tersebut setiap tahun diperingati sebagai Hari Amal Bakti (HAB). Penamaan “Hari Amal Bakti” merefleksikan sikap rendah hati dan nilai-nilai pengabdian luar biasa para pendahulu, dalam memaknai kehadiran Kementerian Agama.
Semangat memperingati HAB tahun 2025 tak dapat dipisahkan dari komitmen seluruh jajaran Kementerian Agama dalam mendukung dan mengimplementasikan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, antara lain: memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia.
Hingga memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, keberadaan Kementerian Agama merupakan jalan tengah antara teori memisahkan agama dari negara dan teori persatuan agama dengan negara.
Pidato pertama Menteri Agama pada 4 Januari 1946 menegaskan, bahwa Kementerian Agama membawa misi untuk memelihara dan menjamin kepentingan agama-agama serta pemeluk pemeluknya.
Dalam beberapa dekade terakhir, muncul fenomena kesenjangan antara kehidupan umat dengan ajaran agama yang dianutnya. Setiap agama melarang korupsi, tapi praktik seperti itu masih saja terjadi. Semua agama melarang kekerasan, kebencian, dan kesewenang-wenangan, namun berbagai anomali masih dijumpai di berbagai ruang kehidupan.
Indonesia, negara besar dengan 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 715 bahasa daerah, dan beragam agama, bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai membentuk harmoni dalam zamrud khatulistiwa.
Yang merupakan salah satu keajaiban dunia dan anugerah Tuhan. Untuk itu peran moral kerukunan perlu disuarakan di berbagai forum dan saluran informasi.
“Dunia saat sekarang sedang dihadapkan pada tantangan global, berupa kerusakan alam yang berakibat pada perubahan iklim dan bencana ekologis serta melahirkan kemiskinan,” kata Edi Damansyah.
Ancaman kekurangan bahan makanan di depan mata harus direspons secara serius, termasuk oleh para agamawan. Sebagai negara dengan masyarakat yang religius, suara pemimpin dan tokoh agama sangat dinantikan.
“Kementerian Agama harus mampu menguatkan peran dalam kampanye penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, sejalan dengan Asta Cita Presiden,” lanjut Edi Damansyah.
Suara agama sangat dibutuhkan dalam kampanye pencegahan kerusakan iklim. Forum Conference of the Parties (COP) ke-28 tahun 2023 di Abu Dhabi dan COP ke-29 tahun 2024 di Azerbaijan, secara khusus membuka Paviliun Iman sebagai platform bersama para tokoh lintas agama untuk menyuarakan pentingnya pelestarian alam dari perspektif agama-agama.
Selain itu, Deklarasi Istiglal yang ditandatangani oleh Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiglal Jakarta pada 5 September 2024, juga menegaskan tentang pentingnya persatuan, toleransi, kemanusian, dan penanggulangan perubahan lingkungan.
Secara geopolitik Krisis global juga terjadi akibat konflik berkepanjangan. Banyak negara merindukan kerukunan dan kedamaian. Mata dunia tertuju pada Indonesia, yang diproyeksikan menjadi kiblat kerukunan dunia.
“Ini juga menjadi tantangan Kementerian Agama untuk terus merawat dan meningkatkan toleransi. Indonesia mempunyai harta yang tak tertakar nilainya yakni kerukunan umat beragama,” ujar Edi Damansyah.
Salah satu tugas terpenting Kementerian Agama, di samping bimbingan kehidupan beragama dan sarana peribadatan, ialah peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
“Pendidikan adalah tumpuan masa depan bangsa, yang harus difasilitasi dengan sistem pendidikan berkualitas dan terjangkau,” jelas Edi Damansyah.
Proses pendidikan akan menghasilkan sumber daya manusia unggul dalam karakter, penguasaan sains, teknologi, literasi, dan memiliki kepedulian sosial. Anak-anak dan peserta didik yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia adalah modal kekuatan bangsa dalam mengarungi percaturan global.
Mendukung program prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran, makan bergizi gratis akan dilaksanakan pada lembaga pendidikan binaan Kementerian Agama.
Pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan adalah cita-cita Kementerian Agama dari masa ke masa. Semua warga, laki-laki maupun perempuan, baik yang kaya maupun yang kurang mampu, termasuk penyandang disabilitas, harus mendapat layanan pendidikan agama dan keagamaan yang setara dan berkeadilan.
Pemberdayaan ekonomi umat juga menjadi konsentrasi Kementerian Agama. Ini dilakukan dalam upaya mewujudkan asta cita pemerintah dan mengentaskan kemiskinan.
Hal itu antara lain dilakukan Kementerian Agama melalui program Kemandirian Pesantren, pengembangan ekosistem ekonomi haji, serta optimalisasi pemberdayaan tata kelola zakat, wakaf, dana punia, dan gerakan filantropi lainnya.
Kementerian Agama terus berkomitmen pada proses reformasi birokrasi dan penguatan meritokrasi dalam tata kelola organisasi. Ini juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan korupsi di Kementerian Agama.
Edi Damansyah mengingatkan bahwa Kementerian Agama bak kain putih bersih. Sedikit noda pun terpercik, akan tampak jelas terlihat. Seluruh unsur pimpinan dan pegawai Kementerian Agama harus menjadi contoh dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.
Para pimpinan di Kementerian Agama harus tampil terdepan dalam komitmen kejujuran dan keteladanan. Seorang tokoh teladan pemberantasan korupsi almarhum Baharuddin Lopa mengatakan, “Banyak yang salah jalan, tapi merasa tenang, karena banyak teman yang sama-sama salah. Beranilah menjadi benar, meski pun sendirian.”
Diyakini banyak orang-orang jujur dan lurus di Kementerian Agama. Maka dari itu agar menjadi agen perubahan dan agen integritas yang mampu menjaga reputasi kementerian dan pemerintah.
Di akhir sambutannya Edi Damansyah menambahkan apa yang sudah dilakukan melalui Kementerian Agama bukan hanya sekedar pembinaan umat, namun terus membina dalam Tilawatil Quran juga pembinaan kepada semua pihak terkait sosialisasi keagamaan, organisasi ke masyarakat dan terus berkoordinasi berjalan dengan lancar di Kukar.
“Untuk itu mari kita terus satukan langkah kaki, bulatkan niat dan satukan pikiran untuk terus melayani masyarakat, karena Pemkab Kukar terus berupaya untuk terus memberikan sarana dan prasarana, untuk menunjang tugas Kementerian Agama di Kukar dalam memberikan pelayanan, walaupun belum semuanya, tetapi tetap diupayakan bagi para petugas di setiap kecamatan, kelurahan dan desa di Kukar. Jadi tidak ada alasan atau kendala para petugas untuk melayani masyarakat,” tegas Edi Damansyah #
Editor: Hoesin KH
Comments are closed.