BERITAKALTIM.CO – Matahari mulai condong ke barat ketika suara alat berat dan deru mesin pemotong besi masih terdengar di antara puing-puing mushalla Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Sabtu (4/10) petang. Bau debu dan semen bercampur dengan aroma menyengat dari reruntuhan yang telah enam hari tak henti digali.
Di lokasi, para relawan dan petugas Basarnas terus berjibaku. Mereka bekerja dalam diam, hanya sesekali terdengar komando lirih dari kepala tim pencarian. Setiap hentakan palu, setiap lembar beton yang diangkat, menyimpan harapan tipis bahwa masih ada nyawa yang bisa diselamatkan.
Namun, harapan itu kembali pupus ketika Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengumumkan kabar terbaru.
“Korban ke-28 berhasil dievakuasi sekitar pukul 14.35 WIB, disusul korban ke-29 pada pukul 16.15 WIB. Selanjutnya, pukul 17.35 WIB, kami menemukan satu bagian tubuh (body part), semuanya di sektor pencarian A4,” ujarnya dengan suara berat.
Setelah proses panjang memotong rangka baja dan menghancurkan beton, ketiga jenazah berhasil diangkat dan dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi oleh tim DVI Polda Jatim.
Sejak Senin (29/9), reruntuhan mushalla Al Khoziny telah menelan 121 korban: 104 di antaranya selamat, sementara 17 meninggal dunia. Dari hasil pencarian hari keenam, tercatat 31 korban telah berhasil dievakuasi, dengan 14 orang selamat dan sisanya meninggal dunia.
Setiap hari, tim SAR gabungan bekerja dengan penuh kehati-hatian. Puing-puing beton yang tebal dan rangka baja membuat proses pencarian berlangsung sangat lambat. “Kami harus angkat puing satu per satu, potong rangka, dan pastikan area aman sebelum menjangkau korban,” kata Nanang.
Di sekitar lokasi, isak tangis keluarga korban terdengar bersahut-sahutan. Beberapa santri yang selamat memilih bertahan, membantu memindahkan puing ringan sambil menunggu kabar teman-teman mereka yang belum ditemukan.
Hingga Sabtu malam, alat berat masih beroperasi untuk mengurangi material reruntuhan yang telah dibersihkan sekitar 70 persen. Namun pekerjaan belum selesai. Bagi tim penyelamat, setiap bongkahan yang tersisa bisa jadi menyimpan seseorang yang belum sempat pulang.
Salah seorang relawan asal Mojokerto, Ahmad Rofiq, mengaku sudah berada di lokasi sejak hari pertama. “Kami tidak bisa berhenti sebelum semua korban ditemukan. Di sini bukan hanya tugas, tapi juga kemanusiaan,” katanya singkat.
Di tengah malam yang semakin gelap, hanya lampu-lampu sorot yang menerangi lokasi pencarian. Debu beterbangan, suara mesin tak berhenti, dan doa dari para keluarga korban terus dipanjatkan.
Malam keenam itu menutup hari dengan kesedihan yang mendalam—tapi juga dengan keteguhan hati para penyelamat yang tak kenal lelah. Bagi mereka, di setiap puing bangunan yang diangkat, selalu ada makna: bahwa harapan, sekecil apa pun, tetap layak diperjuangkan.
ANTARA | Wong
Comments are closed.