BERITAKALTIM.CO — Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, menegaskan pentingnya percepatan transformasi ekonomi dan energi di provinsi penghasil sumber daya alam terbesar di Indonesia itu. Menurut dia, ketergantungan Kaltim terhadap batu bara dan gas alam harus segera dikurangi untuk mencegah terjadinya kutukan sumber daya alam (resources curse) dan mempersiapkan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Dalam paparannya di Forum Energi Daerah Kaltim 2025 di Hotel Mercure Samarinda, Bambang mengurai sejarah perekonomian Kaltim yang selama ini bergantung pada sektor ekstraktif.
“Kalau kita lihat, tahun 1969–1974 ekonomi kita dikuasai oleh kayu, lalu bergeser ke gas dan minyak pada tahun 1970–1990. Memasuki 2000-an, batu bara menjadi primadona dan sampai saat ini masih menjadi penyumbang terbesar ekonomi daerah,” ujar Bambang. Kamis (16/10/2025).
Data Dinas ESDM mencatat, produksi batu bara Kalimantan Timur pada 2024 mencapai 436,7 juta ton, atau sekitar 52 persen dari total produksi nasional. Kontribusi sektor tambang terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim bahkan mencapai 38,6 persen, menjadikannya tulang punggung ekonomi daerah.
Namun, Bambang menegaskan bahwa dominasi batu bara juga membawa risiko besar terhadap lingkungan dan ketahanan ekonomi jangka panjang.
“Batu bara menyumbang sekitar 68 persen terhadap perekonomian Kaltim. Tapi kita harus sadar, semakin lama ketergantungan ini akan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang sulit dikendalikan,” katanya.
Ia juga menyoroti ketimpangan penerimaan daerah dari sektor tersebut. Dari total penerimaan negara bukan pajak dan pajak pertambangan, hanya sekitar 6 persen yang kembali ke daerah, dengan 1,5 persen untuk provinsi dan 2,5 persen untuk kabupaten penghasil.
“Itu pun tahun ini sudah dipotong hingga 77 persen. Jadi, kita perlu berpikir serius bagaimana keluar dari jebakan ekonomi berbasis sumber daya alam mentah,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Kaltim melalui Dinas ESDM telah menyusun 15 kegiatan ekonomi pengganti sektor pertambangan, mulai dari pengembangan industri CPO, bioenergi, listrik berbasis EBT, pangan, hingga industri kimia hijau.
Kegiatan Ekonomi Prioritas :
– Minyak Kelapa Sawit (CPO)
– Udang windu
– Listrik dan gas EBT
– Oleopangan (seperti minyak goreng dan margarin)
– Oleokimia (seperti biodiesel dan fatty alcohol)
– Bioavtur
– Farmasi dan herbal
– Hidrogen hijau
– Ammonia hijau
– Ekowisata
– Panel Surya
– Kendaraan listrik
– Kakao (mentah dan setengah jadi)
– Karet (mentah dan setengah jadi)
– Hilirisasi produk tambang (Batubara
“Transformasi ini bukan hanya soal mengganti sumber energi, tapi juga mengubah pola ekonomi dan sosial masyarakat. Kita ingin pergeseran menuju energi terbarukan berjalan seimbang tanpa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat,” jelasnya.
Kaltim menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 79 persen pada 2045, melampaui target nasional yang berada di angka 70 persen. Target tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Daerah Jangka Panjang (RPDJP) 2025–2045, yang memprioritaskan pengembangan industri rendah emisi.
“Banyak yang bertanya, apakah target 79 persen ini realistis atau utopis? Saya jawab, ini optimis, bukan utopis. Tapi memang kebijakan energi kita masih tumpul. Pajak karbon belum diterapkan, dan insentif EBT masih lemah. Ini yang harus kita benahi,” ungkapnya.
Bambang menambahkan, Kalimantan Timur kini memiliki enam kilang (refinery) yang berkontribusi pada penguatan bauran energi daerah. Selain itu, pemerintah juga tengah mendorong implementasi program B40, yaitu pencampuran minyak sawit dengan bahan bakar fosil untuk mempercepat transisi energi di sektor transportasi.
“Proses B40 ini menjadi momentum penting bagi Kaltim yang punya potensi sawit besar. Kita bisa integrasikan energi terbarukan dengan sektor pertanian dan industri lokal,” katanya.
Selain transportasi, sektor rumah tangga juga menjadi fokus transisi. Pemerintah mendorong pemakaian kompor listrik sebagai substitusi LPG serta peningkatan produksi biometana dari limbah sawit sebagai energi alternatif.
Bambang menegaskan, keberhasilan transformasi energi tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah.
“Transisi ini sangat kompleks. Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat harus berjalan bersama. Karena kalau hanya mengandalkan satu pihak, mustahil bisa sukses,” pungkasnya.
Yani | Wong
Comments are closed.