BERITAKALTIM.CO-Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai kinerja ekspor Indonesia pada 2026 akan menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya, seiring semakin kompleksnya tekanan dari faktor global.
“Potensi pertumbuhan ekspor di tahun 2026 akan lebih menantang dibandingkan 2025. Surplus perdagangan atau net export diperkirakan lebih sempit,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Menurut Faisal, salah satu faktor utama berasal dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) yang dinilai berpotensi semakin represif. Kebijakan tersebut tidak hanya menyasar negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga negara-negara sekutu AS di Eropa dan Australia.
Ia menilai langkah AS tersebut dapat menjadi preseden bagi negara lain untuk menerapkan kebijakan serupa yang berujung pada meningkatnya hambatan perdagangan global.
“Di 2026, kalau kita melihat perkembangan hanya dalam satu bulan, sepanjang Januari saja sudah sangat perlu diwaspadai. AS memaksakan kehendaknya bertindak represif terhadap Indonesia, Iran, hingga Greenland,” ujar Faisal.
“Ini kemungkinan akan diimplementasikan lebih kuat lagi pada kebijakan perdagangan mereka dengan negara-negara lain,” tambahnya.
Selain tekanan eksternal, Faisal juga menyoroti tantangan domestik, khususnya potensi kenaikan inflasi produsen yang dapat mendorong peningkatan biaya produksi, terutama dalam pengadaan bahan baku.
Kondisi tersebut dinilai akan berdampak langsung pada harga produk, baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor, sehingga dapat menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Faisal juga menyinggung kinerja ekspor Indonesia sepanjang 2025 yang meskipun tumbuh, belum mencapai target pemerintah. Pemerintah menargetkan nilai ekspor 2025 sebesar 294,45 miliar dolar AS, namun realisasi hanya mencapai 282,91 miliar dolar AS atau tumbuh 6,15 persen secara tahunan.
Menurutnya, penerapan tarif resiprokal oleh AS serta pelemahan harga komoditas utama, khususnya batu bara, menjadi faktor utama yang menahan laju ekspor nasional.
“Faktor eksternal dari perlakuan tarif oleh AS mempengaruhi ekspor kita. Walaupun lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tidak mencapai target,” kata Faisal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 282,91 miliar dolar AS, meningkat 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun masih di bawah target pemerintah.
Adapun untuk 2026, pemerintah menargetkan nilai ekspor Indonesia mencapai 315,31 miliar dolar AS, atau tumbuh sekitar 7,09 persen. Namun, Faisal menilai target tersebut akan sulit dicapai tanpa mitigasi serius terhadap tekanan global dan penguatan daya saing industri dalam negeri.
ANTARA|Wong|Ar
Comments are closed.