BeritaKaltim.Co

Syarifuddin Oddang: Adipura Bukan Soal Piala, Tapi Budaya Bersih Sehari-hari

BERITAKALTIM.CO- Raihan penghargaan Adipura dinilai bukan perkara sulit bagi Balikpapan. Namun yang jauh lebih menantang adalah mempertahankan konsistensi budaya bersih di tengah pertumbuhan kota yang kian pesat.

Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Syarifuddin Oddang, menegaskan bahwa keberhasilan meraih Adipura sangat bergantung pada kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat, bukan semata kerja pemerintah.

“Untuk mendapatkan penghargaan itu mungkin tidak terlalu sulit. Tapi yang sulit adalah bagaimana kita mempertahankannya. Jangan sampai terlena hanya karena sudah berkali-kali mendapat,” ujarnya, pada hari Jumat, 20 Februari 2026.

Menurutnya, setelah penilaian selesai, semestinya semangat menjaga kebersihan tetap berjalan seperti biasa. Ia mengingatkan, kebersihan kota bukan agenda musiman yang hanya digiatkan menjelang penilaian.

Oddang sapaan karib Syarifuddin Oddang menyoroti kebiasaan bersih-bersih massal menjelang kedatangan tim penilai. Padahal, kata dia, budaya bersih seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.

“Kenapa kita berbondong-bondong bersiap saat mau penilaian saja? Ini kan bagian dari hidup kita. Kalau itu sudah melekat sebagai kebutuhan, kapan pun dinilai, Balikpapan tetap siap,” tegasnya.

Ia mencontohkan hal sederhana di lingkungan perumahan. Jika setiap warga rutin membersihkan halaman rumah masing-masing, maka lingkungan otomatis tertata tanpa harus menunggu instruksi kerja bakti.

“Kalau depan rumah saja dibersihkan setiap hari, pasti bersih. Jangan sibuk mengurus orang lain, sementara tempat kita sendiri tidak beres,” katanya.

Oddang mengakui, tantangan menjaga kebersihan semakin berat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya mobilitas warga, termasuk pendatang baru. Disiplin masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan hasil evaluasi.

Ia juga menyinggung adanya beberapa titik yang dinilai kurang bersih saat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu. Meski demikian, ia menilai hal tersebut bukan berarti Balikpapan gagal, melainkan menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan standar.

“Mungkin karena kita sudah sering dapat, maka standar penilaiannya makin ketat. Artinya kita juga harus naik kelas,” ujarnya.

Menurut Oddang, edukasi kebersihan harus dimulai dari tingkat paling bawah, yakni RT dan kelurahan. RT dinilai sebagai ujung tombak karena bersentuhan langsung dengan warga setiap hari.

“RT harus proaktif berkomunikasi dengan warga. Evaluasi juga ada di tingkat kelurahan. Program kebersihan harus menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Ia menegaskan, menjaga kebersihan bukan semata demi penghargaan, melainkan demi kualitas hidup warga itu sendiri. Jika budaya bersih sudah menjadi kebiasaan, maka penghargaan akan mengikuti dengan sendirinya. “Bukan soal pialanya, tapi bagaimana kebersihan itu menjadi bagian dari karakter kita sebagai warga Balikpapan,” tutupnya.

NIKEN| WONG

Comments are closed.