BeritaKaltim.Co

Ketegangan AS–Israel vs Iran Memanas, Kemenhaj Kaltim Imbau Warga Tunda Umrah Demi Keamanan

BERITAKALTIM.CO — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memanas setelah serangan udara dan rudal gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target militer di Iran. Situasi semakin memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran.

Memanasnya konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur penerbangan di kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi lintasan utama penerbangan menuju Arab Saudi, khususnya bagi jemaah umrah dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji & Umroh (Kemenhaj) Kaltim Muhlis Hasan, mengimbau masyarakat untuk menunda perjalanan umrah apabila kondisi keamanan penerbangan belum benar-benar dipastikan aman.

Muhlis mengatakan, pihaknya telah menerima berbagai informasi dari Kemenhaj RI mengenai adanya arahan untuk lebih berhati-hati terhadap keberangkatan jemaah umrah di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

“Berbagai informasi yang kami dapat dari pusat memang ada himbauan dari Kementerian Haji agar jemaah mempertimbangkan untuk menunda keberangkatan atau mengikuti arahan maskapai penerbangan,” ujar Muhlis di ruangan nya, Selasa (3/3/2026).

Menurut dia, maskapai penerbangan memiliki informasi paling akurat mengenai kondisi keamanan jalur udara yang dilintasi pesawat menuju Arab Saudi.

“Karena yang paling mengetahui kondisi di lapangan itu maskapai penerbangan. Misalnya seperti Saudia atau Garuda Indonesia, mereka tentu memiliki informasi keamanan penerbangan secara langsung,” jelasnya.

Ia pun meminta calon jemaah umrah tidak memaksakan diri berangkat jika situasi keamanan perjalanan belum dapat dipastikan.

“Kalau kondisi keamanan perjalanan itu tidak bisa meyakinkan, jangan dipaksakan. Menunda atau bahkan membatalkan keberangkatan tidak apa-apa. Yang paling penting adalah memastikan dulu keamanan perjalanan,” tegasnya.

Muhlis menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya dari berbagai media internasional, sejumlah negara di sekitar Arab Saudi telah menutup wilayah udaranya sebagai langkah antisipasi konflik.

“Beberapa negara yang berdekatan dengan Arab Saudi seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait dilaporkan sudah menutup wilayah udaranya. Sementara Arab Saudi sampai saat ini masih belum menutup,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa wilayah Arab Saudi merupakan jalur lintasan strategis di kawasan yang berdekatan dengan Iran, sehingga potensi risiko tetap harus diperhitungkan.

“Arab Saudi ini kan berada di wilayah yang menjadi lintasan konflik. Kalau ada rudal atau serangan di kawasan itu tentu bisa berdampak terhadap jalur penerbangan sipil. Kita tidak ingin ada kejadian seperti yang pernah terjadi di wilayah konflik lain, misalnya pesawat sipil terkena dampak perang,” katanya.

Muhlis juga mengakui hingga saat ini pihaknya belum memiliki data valid mengenai jumlah jemaah umrah asal Kalimantan Timur yang saat ini berada di Arab Saudi maupun yang akan berangkat dalam waktu dekat.

Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar jemaah umrah tidak selalu berangkat langsung dari Kalimantan Timur.

“Kita belum punya data yang valid karena jemaah umrah Kaltim sering berangkat melalui kota lain, seperti Jakarta, Banjarmasin, atau bahkan melalui provinsi lain. Jadi mereka tidak selalu terdata di Kaltim,” jelasnya.

Ia menambahkan, berbeda dengan keberangkatan haji reguler yang seluruh prosesnya tercatat melalui sistem resmi pemerintah, keberangkatan umrah sering kali dilakukan melalui berbagai agen atau travel yang berada di luar daerah.

“Kalau haji reguler itu datanya jelas karena semua berangkat melalui sistem pemerintah. Tapi kalau umrah, banyak yang berangkat lewat travel di luar daerah sehingga sulit terdeteksi,” katanya.

Muhlis juga mengingatkan bahwa intensitas keberangkatan umrah biasanya meningkat tajam menjelang sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

“Biasanya pada 10 hari terakhir Ramadan itu jumlah jemaah umrah sangat tinggi. Karena itu kami mengimbau agar masyarakat benar-benar memperhatikan kondisi keamanan sebelum berangkat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam syariat Islam sendiri, ibadah haji maupun umrah hanya diwajibkan apabila tiga syarat utama terpenuhi, yaitu kesehatan, kemampuan finansial, dan keamanan perjalanan.

“Kalau sehat dan mampu secara finansial tapi perjalanan tidak aman, maka kewajiban itu gugur. Jadi keamanan perjalanan menjadi faktor penting yang harus dipastikan,” kata Muhlis.

Karena itu ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk berangkat umrah di tengah situasi konflik internasional yang masih berkembang.

“Pastikan dulu kondisi perjalanan benar-benar aman. Kalau belum yakin aman, lebih baik ditunda dulu. Risiko perjalanan di tengah situasi seperti ini cukup besar,” pungkasnya.

YANI | WONG

Comments are closed.