BERITAKALTIM.CO- “Betulungan Etam Bisa”, itulah slogan yang dikumandangkan Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah dan Wakilnya Rendi Solihin saat Puncak acara Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) di Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Masyarakat berdatangan menyambut dengan suka cita, membuat acara kegiatan yang dilaksanakan, Rabu (25/5/2022), itu terasa meriah. Kegiatan BBGRM kali ini adalah yang ke-19, setelah selama dua tahun vakum karena terhalang adanya Pandemi Covid-19.
Di tempat acara, panitia menyuguhkan tari-tarian dari berbagai suku, juga ada seni barongsai dari etnis Tionghoa. Penampilan kesenian berbagai etnis itu memberikan pesan bahwa di daerah itu tumbuh keanekaragaman budaya suku, agama dan ras, namun bersatu dalam budaya gotong royong yang telah tumbuh di seluruh Indonesia sepanjang sejarah peradaban.
Ada juga dipamerkan aneka makanan tradisional, hasil pertanian dan kerajinan suku-suku asli dari Kutai dan Dayak, berbaur dengan suku Jawa, Banjar, Bugis dan lain-lainnya.
“Kegiatan bulan bhakti gotong royong ini digelar pemerintah kabupaten kukar, memberikan gambaran bahwa pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat. Budaya gotong royong adalah budaya bangsa Indonesia yang tumbuh sejak jaman nenek moyang,” kata Bupati Edi Damansyah kepada para wartawan.
Kegiatan gotong royong dalam konteks program Pemerintah Kabupaten Kukar, menurut Bupati, sejalan dengan slogan “Betulungan Etam Bisa” seperti dituangkan dalam 23 Program Dedikasi RPJMD Kutai Kartanegara, yaitu “Program Kukar Bebaya” dan Program Dedikasi KUKAR IDAMAN. Program Kukat Idaman adalah Kukar Berinovasi, Kukar Berdayasaing dan Kukar Mandiri.
“Kekuatan masyarakat Kutai Kartanegara adalah gotong royong dengan Betulungan, karena betulungan merupakan modal sosial. Dimana masyarakat Kutai Kartanegara secara bahu-membahu menyelesaikan berbagai hambatan dan tantangannya ke depan, betulungan bukan hanya jiwa masyarakat Kutai Kartenagara namun juga sekaligus modal sosial dalam menghadapi masa depan,” kata Bupati dalam sambutan tertulisnya.
Diakui oleh Bupati, memang tidak mudah untuk menjalankan semangat gotong royong di tengah-tengah kecenderungan berkehidupan saat ini, yang makin individualistis, dan cenderung kompetitif.
“Masih banyak dari kita yang menyukai kerja masing-masing, dibandingkan bekerja bersama-sama. Ego wilayah dan ego sektoral lebih menonjol dibandingkan sinergi dan kerjasama. Dari sinilah salah satu cikal bakal munculnya Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga yang lebih kita kenal dengan Program 50jt per RT yang salah satu implementasi dari Program Dedikasi Kukar Bebaya,” ujarnya.
Program Pembangunan 50 juta per RT itu untuk menggerakkan pemberdayaan masyarakat di tingkat RT yang dirancang sendiri oleh masyarakat dan dilaksanakan oleh masyarakat.
Pada kesempatan itu Bupati mengingatkan, acara Bulan Bhakti Gotong Royong jangan dijadikan sekedar seremonial, tapi dibuktikan dengan kerja lapangan daerah masing-masing. Mulai dari tingkat RT, dusun, desa dan kelurahan sampai kecamatan. #
Wartawan: Hardin
Comments are closed.