BERITAKALTIM.CO- Komisi 1 DPRD Kutai Kartanegara memilih Jawa Tengah untuk menimba pengetahuan tentang tata kelola pemerintahan yang akuntable dan pengolahan sampah terpadu. Tidak tanggung-tanggung, kunjungan kerja para wakil rakyat dari Kukar itu justru diterima langsung oleh Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng yang namanya sedang kinclong menuju kursi Presiden RI.
Foto-foto pertemuan jajaran Komisi 1 DPRD Kukar dengan Ganjar Pranowo didistribusikan kepada Wartawan, termasuk diterima Beritakaltim. Terlihat ada tiga politisi Kukar, yakni Johansyah,SE, M.Si dari Partai Golkar, Yohanes B Dasilva dari Partai Amanat Nasioonal (PAN) dan Eko Walandanu,SH dari Partai Perindo. Ketiganya didampingi oleh Sekertaris DPRD M.Ridha Darmawan SP.MP.
“Pertemuan dengan Pak Ganjar begitu cair. Beliau menceritakan pemerintahan di Jawa Tengah dalam kaitan tata kelola pemerintahan yang akuntable,” cerita Johansyah kepada Beritakaltim, Sabtu (16/7/2022).
Silaturahmi berlangsung di rumah dinas Gubernur Jawa Tengah, Puri Gedeh Jalan Gajah Mungkur (Jl Gubernur Budiono) No 8 Semarang. Johansyah menceritakan kesannya terkait pemerintahan akuntable dimulai ketika gubernur membuat gerakan yang kini sangat populer; yaitu mboten korupsi mboten ngapusi (tidak korupsi dan tidak menipu).
Sementara dalam kunjungan lain di Semarang rombongan anggota Komisi I mengunjungi DPRD Kota Semarang dan Kepala DLH (Dinas Lingkungan Hidup) di sana. Dengan para legislatif di kota itu mereka beriskusi terkait produk peraturan daerah yang mengayomi tata kelola pemerintahan dan pengolahan sampah terpadu.
“Produk Perdanya betul¬-betul menjadi landasan dan acuan bagi masyarakat di wilayah itu, tertib aturan dan tertib pengolahan, seperti pengolahan sampah yang betul-betul mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan ramah lingkungan,” kata politisi partai Golkar itu.
Johansyah mencontohkan, dari 10 ton sampah masyarakat yang dikumpulkan, sebanyak 8 ton ternyata masih mempunyai nilai ekonomi dan bermanfaat. Jadi, hanya 2 ton yang betul-betul sampah yang dibuang di tempat pembuangan akhir, setelah dilakukan pemilahan.
“Sampah plstik untuk dijual kembali. Batang kayu untuk diolah menjadikan bahan organik. Jadi aturan dan sistem di kota semarang ini betul-betul berjalan dengan baik sesuai aturan perencaannya,” kata Johansyah.
Dia berharap, hasil diskusi dan pengalaman yang diperoleh menjadi bahan acuan dan contoh untuk diterapkan di Kutai Kartanegara. #
Comments are closed.