SAMARINDA, BERITAKALTIM.com- Pulangnya HM Said Amin SH ke Samarinda selepas umroh dimanfaatkan untuk berbagi cerita tentang berbagai hal, termasuk masalah politik yang diakunya cukup menguras energi saat digelarnya Musda IX Golkar 12-13 Maret di Grand Senyiur Hotel Balikpapan.
Said Amin mengaku terus mengikuti hiruk pikuk pemberitaan media massa di Kaltim walaupun ia sejak beberapa lama berada di Jakarta dan kemudian berangkat Umroh ke tanah suci. Termasuk munculnya pro dan kontra yang dianggapnya sebagai dinamika partai Golkar.
“Wajar saja karena Partai Golkar itu partai besar. Kita menjadi pemenang Pemilu dengan perolehan 13 kursi di DPRD Kaltim. Ibarat pepatah, semakin tinggi pohon semakin besar juga angin meniupnya,” tutur Said Amin kepada beritakaltim.com yang menemuinya di Kantin Masjid Sofiatul Amin, Komplek GOR Segiri Samarinda, Sabtu (2/4/2016).
Jika sedang berada di Kota Samarinda, Said berusaha untuk menjalankan sholat lima waktunya di Masjid Sofiatul Amin. Masjid ini dulunya kecil,sehingga ia terpanggil membangunnya. Saat ini masjid yang letaknya di belakang KONI Kaltim bisa digunakan untuk kapasitas sekitar 2000 orang.
Said Amin yang saat itu didampingi oleh anggota DPRD Kaltim Andi Harun, Ketua DPD KSPSI Kaltim Amir P Ali dan sejumlah kader Pemuda Pancasila menceritakan bagaimana perjalanan aktifitas organisasi di Golkar. Sejak era Presiden Soeharto sampai terjadi reformasi dia berada bersama pohon beringin.
“Jangan lupakan sejarah. Pemuda Pancasila itu sejak dulu adalah pendukung Golkar. Kami bukan sayap, bukan organisasi mendirikan atau didirikan. Tapi kami tetap ada bersama-sama Golkar,” ujar Said. Itu sebabnya, sampai sekarang banyak kader Pemuda Pancasila melaju karir politiknya di tingkat daerah sampai pusat berkat partai Golkar.
Tapi ketika reformasi terjadi. Tuntutan perubahan terjadi di mana-mana, termasuk organisasi dan partai politik. Pemuda Pancasila atas desakan peserta Kongres juga mengubah status dari OKP (Organisasi Kepemudaan) menjadi Ormas (Organisasi Kemasyarakatan). Berbarengan dengan itu keputusan kongres adalah mendirikan partai politik bernama Patriot Pancasila.
Said Amin mengaku tidak bisa menghindar. Apalagi tugas datang langsung dari Ketua Umum PP Japto Soelistyo Soerjosoemarno. Sebab Kaltim adalah basis kader PP. Tidak kurang dari 30 ribu anggota ada di provinsi yang dikenal kaya sumber daya alam itu.
Walaupun hatinya berat, akhirnya Said keluar dari Golkar dan menjadi Ketua Partai Patrot Pancasila. Ternyata, di zamannya, dua kali ikut Pemilu, sebagai partai baru sukses meraih suara hingga di DPRD Kaltim. Juga hampir disemua kabupaten / kota.
Ketika Partai Patriot memutuskan bubar, menurut Said, ia sudah merasa nyaman karena aktifitas organisasi tinggal kepada Ormas PP yang dipimpinnya. Ia ingin fokus berbisnis sampai akhirnya muncul desakan agar kembali ke Golkar.
Melalui negosiasi yang alot dan panjang, akhirnya gerbong Said Amin di Partai Patriot diboyong ke Golkar. Walau tidak semua, karena ada juga yang bergabung ke Partai Gerindra dan partai lainnya.
Bersama Said Amin yang bergabung ke Golkar adalah Andi Harun, Masitah Assegaf, Rita Barito. Ketiga nama terakhir sekarang menjadi anggota DPRD Kaltim dari Golkar.
“Saya bergabung kembali ke Golkar bukan dengan tangan kosong. Tapi membawa gerbong massa kita juga yang ada di Partai Patriot dan Pemuda Pancasila,” cerita Said Amin. #le
Comments are closed.