BeritaKaltim.Co

Tekan Kebocoran PAD dengan Sistem Online

SAMARINDA. BERITAKALTIM.COM – Tekan kebocoran pendapatan daerah dengan cara menerapkan sistem online berbasis Teknologi Informasi (TI) di seluruh SKPD di Kaltim. Penerapan sistem online tersebut bertujuan meminimalisirkemungkinan kecurangan pegawai nakal ketika hendak meraup keuntungan dari sisi pendapatan daerah.

Hal tersebut dikatakan Ketua Pansus pembahas Raperda perubahan atas Perda Provinsi Kaltim Nomor 01 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Umum, Raperda perubahan atas Perda Provinsi Kaltim Nomor 02 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha dan Raperda perubahan atas Perda Provinsi Kaltim Nomor 03 Tahun 2012 tentang Retribusi Perizinan Tertentu DPRD Kaltim, Wibowo Hankodo saat melakukan kunjungan ke Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jawa Timur, Selasa (26/4/2016).

“Demi menekan kebocoran pendapatan daerah, melalui raperda ini, pansus tentu akan menerapkan sistem online sama seperti Jawa Timur dan kota besar lainnya. Dimana Kaltim sendiri masih lemah dalam pengawasan dan pengaturan sistemnya,” kata Wibowo didampingi Wakil Ketua Pansus Saefudin Zuhri.

Dalam pertemuan hadir Dispenda Provinsi Jawa Timur, Biro Perlengkapan Provinsi Jawa Timur serta anggota Pansus lainnya yakni Siti Qomariah, Andhika Hasan, Irwan Faisyal, Jahiddin. Ada pula Masykur Sarmian, Josep, Edi Sunardi Darmawan, Muhammad Samsun dan Ferza Agustia.

Wibowo Handoko menjelaskan, Pemprov Jawa Timur mampu mengoptimalisasi pendapatan daerah di seluruh SKPD menggunakan sistem modernisasi berupa sistem yang mampu terintegrasi secara online ter-conecting dengan baik kepada Dispenda Provinsi Jawa Timur.

Seperti, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari retribusi terkemuka di Jatim naik signifikan dari seluruh SKPD. Sehingga target APBD Jawa Timur yang berkisar Rp 152 miliar, mampu mencapai target lebih besar sebanyak Rp 176 miliar dari retribusi melalui sistem yang dibangun Jatim.

“Jadi informasi mengenai aset dari pendapatan bisa terpantau dengan baik melalui data untuk mengurangi kebocoran pendapatan. Selain itu, Pansus juga tetap meinventarisir seluruh SKPD serta pada sektor-sektor yang bisa memungkinkan meningkatkan potensi retribusi daerah,” papar Wibowo.

Hal senada disampaikan anggota pansus lainnya, Josep. menurutnya banyak hal yang bisa dicontoh dari Jatim, dalam rangka menciptakan berbagai peluang peningkatan pendapatan daerah. Terlebih anggaran pendapatan daerah terus mengalami penurunan.

Peningkatan tersebut dengan memaksimalkan peluang yang selama ini kurang mendapat perhatian. Padahal, jika dimaksimalkan akan mampu menjadi peningkatan pendapatan daerah.

Dicontohkannya, seperti pajak terhadap setiap kegiatan pelatihan dan diklat yang dilakukan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang biasanya rutin dilakukan secara berkala setiap tahunnya.

“Satu SKPD beragam dalam melakukan pelatihan atau diklat.Ada yang satu kali setahun dan ada yang lebih. Potensi ini jika ditarik pajak dan dikembalikan lagi ke SKPD bersangkutan untuk keperluan lain maka otomatis cukup efesien,”sebut Josep.

Hal tidak kalah pentingnya untuk bisa diterapkan di Kaltim adalah penggunaan sistem voucher parkir. Artinya, penerapan sistem prabayar untuk masyarakat dinilai lebih efektif dan efesien serta mampu terserap maksimal.

Pasalnya, masalah parkir khususnya di kota-kota besar menjadi persoalan yang cukup serius dan perlu mendapat perhatian.

Karena selain akan marak menimbulkan juru parkir liar juga tempat yang digunakan trotoar hingga badan jalan sehingga cukup efektif penyumbang kemacetan.

Menurut, Josep hal itu membuat uang yang harusnya masuk ke kas daerah justru hilang. Kondisi itu berbeda jika menggunakan sistem voucher dengan pengadaan mesin disetiap tempat parkir akan memberikan efek cukup besar terhadap daerah.

“Jumlah kendaraan baik mobil dan motor tiap tahunnya terus bertambah. Kalau sistem ini bisa diterapkan di Kaltim maka hitung-hitungannya pendapatan dari ini saja sudah cukup besar untuk kemudian digunakan dalam pembangunan Kaltim sejahtera,”tutur Josep. #adv/rid/bar/gg

Comments are closed.