BERITAKALTIM.CO- Acara talkshow “Tangkal Hoaks Menjelang 2024” berlangsung seru di hall Atrium Bigmal Samarinda. Narasi-narasi politik diduga bakal membanjiri media sosial, meski Pemilihan Umum (Pemilu) masih dua tahun lagi.
Ada lima pembicara, Rusman Yakub (Anggota DPRD Kaltim), HM Faisal (Kadis Kominfo Kaltim), Tri Wahyuni (Ketua Forum Jurnalis Perempuan Kaltim), Silviana Purwanti (Akademisi Unmul) dan Charles Siahaan (Ketua Gerakan Antihoaks Jurnalis Kaltim).
“Pemilu masih dua tahun lagi, tapi para politisi sudah mulai memainkan narasi-narasi politik untuk menaikkan elektoral. Tapi, sayangnya seringkali di balik upaya mengupgrade nama, selalu ada pihak-pihak yang melakukan downgrade atau menjatuhkan lawan. Salah satu caranya dengan memproduksi konten-konten hoaks,” ujar Charles Siahaan yang juga Pemimpin Redaksi Beritakaltim itu.
Pada acara Kamis (24/3/2022) di lokasi kawasan pamerah Borneo Explore dan disiarkan melalui channel Youtube dan Facebook, Kadis Kominfo Kaltim HM Faisal mengakui adanya kecendrungan bakal naiknya konten-konten hoaks menjelang Pemilu tahun 2024. Langkah-langkah yang ditempuh pemerintah untuk menangkal hoaks adalah dengan menyelesaikan hulunya.
“Hoaks itu tidak ada habis-habisnya. Karena ada yang sengaja memproduksi. Menurut saya lebih bagus kita perbaiki hulunya,” ujar Faisal.
Maksud pembenahan di hulu adalah dengan membangun pertahanan masyarakat, yakni penguatan pemahaman masyarakat pengguna internet. Caranya dengan memperbanyak literasi digital.
Dengan literasi digital yang baik, maka narasi-narasi hoaks yang beredar di media sosial terlewat begitu saja. Tidak ada yang menanggapi, bahkan tidak ada yang menshare berantai.
“Kami di Kominfo dari pusat memperbanyak kegiatan literasi digital ini. Menyentuh seluruh lapisan, mulai pelajar dan mahasiswa juga emak-emak,” kata Faisal.
Menyebut ’emak-emak’, Silviana Purwanti mengatakan kalau kelompok perempuan termasuk yang sering terpapar konten-konten hoaks. Mereka menjadi penyebar di grup-grup WA (whatsApp), termasuk dalam WA keluarga.
“Repot kalau penyebarannya di grup-grup WA keluarga,” ujar Silviana.
Anggota DPRD Rusman Yakub menginginkan adanya kelembagaan yang cepat melakukan respon terhadap penyebaran hoaks di media sosial. Dia mendorong kalangan Wartawan yang memang bertugas dalam pencarian berita, menjadi pelopor kelembagaan itu bekerjasama dengan pemerintah. Tugasnya adalah melakukan konter atas berita-berita hoaks yang muncul, agar masyarakat dengan segera mendapat keseimbangan informasi bahwa berita yang tersebar adalah hoaks.
Menurut Faisal, saat ini konter narasi hoaks terpusat di Kementerian Kominfo, sedangkan Dinas Kominfo tidak masuk terlalu jauh, kecuali hoaks terhadap isu-isu lokal. Lagi pula, hoaks lokal masih tergolong sedikit.
“Hoaks yang banyak beredar kebanyakan isu-isu nasional,” ucap Faisal.
Menjelang tahun politik 2024, Rusman Yakub mengatakan kalau dirinya tidak akan menggunakan cara-cara menyebar hoaks terhadap lawan politik. Dia memilih cara-cara bermartabat, yakni dengan menaikkan elektoral menggunakan media-media massa termasuk media sosial.
Dia mengakui dalam setiap event politik selalu muncul narasi-narasi mendowngrade lawan politik, namun dia memastikan tidak akan melakukannya. Termasuk juga oleh timnya.
Sementara itu Ketua Forum Jurnalis Perempuan Kaltim Tri Wahyuni menyoroti tentang perempuan yang menjadi korban akibat hoaks. Dia mengingatkan kaum perempuan untuk berhati-hati saat memposting status di media sosial, sebab sudah banyak kejadian karena postingan istri di media sosial akhirnya berdampak pada keluarga. Misalnya ada Komandan Kodim dan Kapolres dicopot dari jabatannya, gara-gara istrinya memposting status yang tidak pantas. #
Wartawan: wong
Comments are closed.