BeritaKaltim.Co

Pengunaan Batik Berau Harus Terus Disosialisasikan


BERITAKALTIM.CO – Peraturan Bupati (Perbup) nomor 43 tahun 2021 tentang penggunaan batik motif khas Kabupaten Berau telah disahkan untuk untuk digunakan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ketika bekerja.

Namun kenyataannya, hingga kini penggunaan batik khas Berau oleh para pegawai (OPD) terkait masih sedikit diterapkan.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Berau Madri Pani mengungkapkan, sebenarnya program pemerintah daerah sudah sangat bagus.

“Ya semua apa yang diprogramkan pemerintah daerah ya kita apresiasi. Tapi ya harus konsisten,” ucapnya Jumat (31/06/2024).
Lebih lanjut kata dia, dalam mengaplikasikan penggunaan batik khas Berau sepatutnya harus ada sosialisasi terus oleh Pemkab Berau.

“Harus ada di sosialisasikan terus menerus kepada OPD terkait lalu nanti berseiringan instansi vertikal bakal mengikuti,” ungkapnya.

Madri memaparkan penggunaan batik khas Berau pun harus terjadwal hari hari tertentu dalam satu Minggu bekerja.

“Semisal hari Kamis-Jumat pakai batik khas Berau. Jika terealisasi dengan konsisten maka apa yang telah terprogram Pemkab Berau bisa terus berkesinambungan pegawai dan masyarakat bakal terbiasa,” paparnya.

Politisi dari partai Nasional Demokrat (Nasdem) itu berharap jangan sampai kebijakan Pemkab Berau penggunaan batik lokal hanya sesaat saja diterapkan.

“Saya berharap ajakan Pemkab kepada pegawai dan instansi vertikal pengguna batik khas Berau ini bisa terus konsisten,” tuturnya.
Sebab jika konsisten pengguna batik khas Berau, Madri optimis perekonomian pengrajin kain khas Bumi Batiwakkal meningkat.

“Saya yakin bakal beriringan penggunaan batik lokal, tentu perekonomian rumah batik khas Berau pun untung dan dampak berkepanjangan batik kita bisa dikenal masyarakat makin luas,” katanya.

Sementara itu perkembangan kain batik di Kabupaten Berau Kaltim, sangat berkembang. Pengrajin pada masing masing rumah batik meningkatkan kemampuan diri dengan terus mengikuti pelatihan dan melengkapi sarana prasarana rumah batik.

Hanya saja untuk produksi masih terbatas, terbatas pesanan dari OPD dan produksi untuk memenuhi kebutuhan souvenir.

Beberapa rumah batik, seperti Putri Maluang Batik, shodik, rumah batik berau dan beberapa rumah batik lainya aktif memproduksi kain batik.
Kiprahnya untuk memperkenalkan batik di tingkat nasional juga tidak diragukan melalui lomba, maupun fashion show. Seeprti Putri Maluang Batik pernah tampil di Indonesia Fashion Week, dan even even nasional lainya.

MOTIF PENYU

 Selain  itu Madri Pani  juga menyampaikan yang unik dari batik Berau adalah motif penyunya. Alasan pemilihan penyu pun dinilai karena Berau adalah salah satu tempat berkembangnya habitat penyu terbesar, khususnya di Kepulauan Derawan.

Penyu yang berkeliaran di antara daun Rutun (sejenis tumbuhan khas paku-pakuan yang hidup pada daerah berawa, denhan bentuk unik dengan daunnya yang meyerupai jenis daun paku) menambah unik, dengan adanya pola bintang laut berkaki lima yang tidak meninggalkan nuansa corak batik Kalimantan.

“Kalau diperhatikan dengan seksama seakan bermetamorfosis menyerupai untaian bunga anggrek hitam yang merupakan ciri khas Kalimantan pada umumnya,” Jelasnya.

Diterangkan pula, pada awalnya, Berau sudah memiliki batik cawul yang memiliki beberapa motif busak kangkung dengan tiga motif awal, yaitu Busak Kangkung Balilit, Busak Kangkung Sarayak dan Busak Kangkung Taggu, penyu dan pernik asesoris kerajaan daerah Berau juga melengkapi corak motif ini, yang telah dikenalkan pada masyarakat sekitar tahun 2010 lalu.

Kekhasan inilah yang diangkat masyarakat lokal untuk menambah khasanah corak khas Batik lokal yang ada di wilayah Berau, Kalimantan Timur sebagai kawasan yang kaya akan potensi wisata. Batik Rutun ini menjadi khas dan unik, karena coraknya yang bernuansa tradisional menggambarkan unsur-unsur kekayaan potensi alam wilayah berau yakni daun Rutun, penyu hijau, bintang laut juga sulur-sulur rotan yang melatarinya.

Reporter: Ana | Editor: rh | ADV DPRD Berau

Comments are closed.