BERITAKALTIM.CO – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, dr Jaya Mualimin, menyampaikan kebanggaannya atas keberhasilan Kalimantan Timur, menjadi pelopor vaksinasi Demam Berdarah Dengue (DBD) pertama di dunia.
Program vaksinasi yang digelar sejak tahun 2023 ini mendapatkan apresiasi internasional, termasuk dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan media global BBC London.
“Provinsi Kalimantan Timur adalah yang pertama di dunia dalam pelaksanaan vaksinasi DBD. Ini bukan uji coba, tapi pilot project yang sudah membuktikan hasil nyata. Dari 10.000 anak yang divaksinasi, tidak ada satu pun yang harus dirawat atau terinfeksi DBD setelahnya,” kata Jaya Mualimin saat ditemui di Samarinda, Kamis (21/11/2024).
Keberhasilan program ini menjadi sorotan global setelah WHO memberikan apresiasi resmi, dan BBC London mempublikasikan hasil program ini ke masyarakat dunia.
Selain itu, sejumlah negara dan provinsi di Indonesia mulai menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari penerapan program ini.
“Yang pertama datang adalah delegasi dari Kerajaan Selangor, Malaysia. Mereka akan berkunjung ke Kalimantan Timur pada 15–18 Desember 2024 untuk mempelajari langsung proses pelaksanaan vaksinasi ini,” jelas dr Jaya Mualimin.
Delegasi Selangor akan diajak mengunjungi sekolah dasar, rumah sakit, dan berbagai lokasi pelaksanaan vaksinasi lainnya.
Menurut Jaya Mualimin, beberapa provinsi di Indonesia, seperti Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan, juga mulai merasakan manfaat program ini, meskipun vaksinasi DBD belum menjadi program nasional.
“Untuk menjadi program nasional, perlu pembahasan lebih lanjut di DPR RI dan alokasi anggaran yang besar,” ujar Jaya Mualimin.
Selain vaksinasi DBD, dr Jaya Mualimin juga menyoroti pentingnya peningkatan cakupan vaksinasi untuk penyakit lainnya, seperti rotavirus untuk diare pada bayi dan balita, vaksin bronkopneumonia untuk paru-paru basah, serta vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks.
“Khusus untuk vaksin HPV, cakupannya masih rendah karena masih banyak masyarakat yang belum memahami manfaatnya. Vaksin ini penting untuk mencegah kanker serviks, bukan untuk tujuan lain,” tegas Jaya Mualimin.
Meski mencatat banyak keberhasilan, Jaya Mualimin mengakui adanya tantangan dalam pelaksanaan program vaksinasi.
Salah satunya adalah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi, serta keterbatasan jumlah agen vaksin yang hanya mencapai 14 unit di Kalimantan Timur.
“Kami berharap program vaksinasi ini bisa menjadi model nasional, agar lebih banyak masyarakat yang mendapatkan perlindungan kesehatan,” harap dr Jaya Mualimin.
Dengan keberhasilan vaksinasi DBD ini, Kalimantan Timur tidak hanya menjadi pionir di Indonesia tetapi juga di dunia. Pemerintah daerah berharap keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk meningkatkan upaya pencegahan penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat.#
Reporter : Yani|Editor : Hoesin KH|Adv|Diskominfo Kaltim
Comments are closed.