BERITAKALTIM.CO-Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, akan meninjau langsung kondisi habitat pesut air tawar di Sungai Mahakam, pada hari Sabtu, 7 Februari 2026. Kunjungan tersebut dilakukan menyusul kekhawatiran terhadap semakin terancamnya populasi satwa endemik Kalimantan Timur itu.
Hanif mengungkapkan, berdasarkan data terbaru, jumlah pesut Mahakam saat ini tercatat sebanyak 66 ekor. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan data sebelumnya yang hanya 62 ekor, setelah terjadi kelahiran tujuh individu dan kematian tiga individu.
“Dulu waktu saya berkunjung jumlahnya 62, sekarang menjadi 66. Memang ada kelahiran, tetapi juga ada yang mati. Ini menunjukkan populasinya masih sangat rentan,” ujar Hanif, saat melakukan peninjauan pengolahan sampah di Balikpapan, pada hari Jumat, 6 Februari 2026.
Ia mengatakan, peninjauan lapangan akan dilakukan dengan menyusuri Sungai Mahakam bersama tim gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perhubungan, serta melibatkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
“Kami ingin melihat langsung gangguan terhadap habitat pesut dan merumuskan langkah-langkah penting untuk perlindungannya,” jelasnya.
Salah satu fokus utama peninjauan adalah aktivitas pengangkutan batu bara yang masih melintasi sungai-sungai kecil yang menjadi habitat pesut. Padahal, dua sungai utama di kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai sungai konservasi oleh Kementerian KKP dan secara regulasi tidak diperbolehkan dilalui tongkang berdasarkan ketentuan Kementerian Perhubungan.
“Data yang kami terima menunjukkan sungai yang seharusnya menjadi kawasan konservasi masih dilalui tongkang batu bara. Lebarnya juga tidak memenuhi syarat untuk aktivitas tersebut,” tegas Hanif.
Ia menegaskan, pemerintah akan memberikan imbauan keras agar aktivitas pengangkutan batu bara di kawasan sungai konservasi segera dihentikan. Tidak menutup kemungkinan, langkah penegakan hukum akan ditempuh apabila pelanggaran masih ditemukan.
“Kalau perlu, kami akan melakukan tindakan hukum. Ini penting untuk menjaga populasi pesut, karena pesut air tawar di Indonesia hanya ada di Mahakam,” katanya.
Hanif juga mengingatkan bahwa pada era 1990-an, pesut masih mudah ditemukan di tepian Sungai Mahakam, bahkan hingga kawasan Samarinda. Namun kini, keberadaan satwa tersebut semakin sulit dijumpai akibat degradasi habitat.
“Dulu pesut masih sering terlihat di Samarinda, sekarang sudah tidak ada. Ini alarm bagi kita semua. Pesut wajib kita selamatkan,” ujarnya.
Melalui kerja sama lintas kementerian dan pemerintah daerah, Hanif berharap upaya perlindungan habitat dapat berjalan lebih efektif, sehingga populasi pesut Mahakam dapat terus bertambah dan tidak punah.
“Mudah-mudahan dengan langkah bersama ini, habitat pesut bisa kita perbaiki dan populasinya meningkat,” pungkasnya.
NIKEN | WONG
Comments are closed.