BERITAKALTIM.CO – Menjelang suksesi Wali Kota dan Wawali Samarinda periode 2030–2035, suhu politik perlahan mulai menghangat. Sejumlah nama mulai mencuat ke permukaan, membawa latar belakang dan strategi masing-masing. Mereka bukan wajah baru tanpa pengalaman, melainkan figur yang telah lama berkecimpung di panggung legislatif maupun eksekutif.
Salah satunya adalah Saefuddin Zuhrie, yang dikenal dengan pendekatan berbasis akar rumput. Sebagai petahana di kursi eksekutif, ia memiliki keunggulan dalam hal kedekatan langsung dengan masyarakat. Jaringan sosial yang terbangun melalui berbagai komunitas menjadi modal politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Di sisi lain, ada Hasanuddin Mas’ud, sosok yang menggabungkan kemampuan teknokratis dan keluwesan politik. Dengan jejaring luas di tingkat provinsi, ia dinilai mampu memainkan peran strategis dalam pembangunan. Pendekatannya yang mulai merangkul generasi muda menjadi sinyal bahwa peta pemilih ke depan akan semakin didominasi oleh Gen Z dan milenial.
Nama berikutnya, Agus Suwandy, hadir dengan gaya yang lebih senyap. Namun di balik itu, ia dikenal memahami detail persoalan kota, dari infrastruktur hingga birokrasi. Pengalaman panjang di parlemen membuatnya memiliki perspektif yang utuh dalam membaca kebutuhan warga.
Sementara itu, Andi Satya Sofyan Hasdam tampil sebagai representasi generasi baru dengan pendekatan modern. Gaya komunikasinya yang berbasis data dan rasional dinilai selaras dengan karakter masyarakat perkotaan yang semakin kritis dan melek informasi.
Tak ketinggalan, Andi Rayhan Harun, yang disebut sebagai rising star. Dengan latar belakang keluarga politik serta pengalaman belajar langsung dari kepemimpinan sebelumnya, ia membawa narasi keberlanjutan sekaligus regenerasi.
Persaingan menuju Samarinda 1 di masa depan diperkirakan tidak lagi sekadar soal kekuatan logistik atau popularitas semata. Lebih dari itu, ini adalah pertarungan gagasan—antara mereka yang mengandalkan basis tradisional dengan yang menawarkan narasi perubahan di era digital.
Di tengah dinamika tersebut, masyarakat Samarinda kini berada pada posisi yang semakin kritis. Pemilih tidak lagi hanya melihat janji, tetapi menuntut bukti konkret dan solusi nyata atas persoalan kota.
Pada akhirnya, siapa pun yang akan memimpin Samarinda ke depan, tantangan utamanya tetap sama: menjaga ritme pembangunan sekaligus memastikan kota ini tumbuh sebagai ruang yang inklusif dan berdaya saing.
Waktu akan menjadi penentu. Namun satu hal pasti, kontestasi menuju 2030 telah dimulai—pelan, tapi penuh perhitungan.
*) Tulisan Rusdiansyah Aras
Comments are closed.