BERITAKALTIM.CO – Dua tahun terakhir, peta masa depan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kalimantan Timur bergerak pelan tapi pasti. Pergeseran itu terekam jelas dalam tracer study Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, sebuah pemetaan rutin yang sejak 2022 dilakukan untuk mengikuti jejak para lulusan setelah mereka meninggalkan bangku sekolah.
Tahun ini, hasilnya menunjukkan sesuatu yang berbeda: lebih banyak lulusan SMK memilih bangku kuliah ketimbang langsung bekerja.
Di balik perubahan arah itu, ada satu variabel yang menonjol: kebijakan pendidikan Gratispol, program bantuan biaya pendidikan yang diluncurkan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji pada pertengahan 2025.
Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdikbud Kaltim, Surasa, menyebut bahwa dampaknya tampak lebih cepat daripada perkiraan. Tracer study tahun ini dilakukan pada Oktober, hanya empat bulan setelah Gratispol diresmikan pada Juni. Tetapi tren baru sudah terlihat terang.
“Kalau dibandingkan dari tahun ke tahun, khusus di 2025 ini ada tren baru. Lulusan SMK yang melanjutkan studi naik sekitar 3 persen, Begitu juga sebaliknya, lulusan yang bekerja turun sekitar 3 persen. Ini hasil penelusuran tamatan yang kami kumpulkan secara by data.” ungkap Surasa saat di temui, Sabtu (22/11/2025).
Tren ini dinilai penting karena selama bertahun-tahun lulusan SMK dikenal lebih banyak memilih jalur bekerja atau berwirausaha.
Di banyak sekolah, orientasi pilihan bekerja, wirausaha, dan melanjutkan kuliah, dipromosikan sebagai tiga pintu utama. Namun, pilihan pertama dan kedua selama ini selalu mendominasi.
Menurut Surasa, perubahan komposisi tahun ini menunjukkan bahwa hambatan biaya yang selama ini dianggap sebagai kendala paling besar dalam akses pendidikan tinggi mulai terkikis.
“Ketika ada tren kenaikan lulusan SMK melanjutkan pendidikan tinggi, itu artinya ruang dan akses semakin terbuka. Gratispol memberikan peluang yang jauh lebih lebar bagi anak-anak SMK untuk bermimpi lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa data ini masih perlu dianalisis lebih dalam. Namun dari indikasi awal, Surasa melihat dampaknya sangat langsung dan sangat sosial.
Program yang baru berusia beberapa bulan itu sudah menyentuh keluarga-keluarga yang selama ini menahan diri untuk mengulangi biaya kuliah.
“Ini patut kita syukuri bersama. Program Pak Gubernur benar-benar dirasakan masyarakat, lebih khusus lagi lulusan SMK yang selama ini ingin kuliah tetapi terbentur biaya,” katanya.
Surasa menjelaskan bahwa tracer study dilakukan oleh sekolah-sekolah SMK di seluruh Kaltim dengan metode pelacakan berbasis data, baik melalui survei digital maupun kunjungan lapangan.
Tujuannya untuk membaca kecenderungan pasar tenaga kerja dan kesiapan lulusan, sekaligus memetakan ke mana mereka melangkah setelah lulus.
Hasil tahun 2025 menunjukkan pola pergeseran: semakin banyak siswa SMK yang melihat kuliah sebagai bagian dari strategi karier jangka panjang, bukan sesuatu yang tak terjangkau.
Di sisi lain, penurunan lulusan yang langsung bekerja sebesar 3 persen bukan berarti peluang kerja melemah, melainkan bahwa sebagian lulusan memilih menunda kerja untuk memperkuat kompetensi.
“Kami akan mendalami, apakah ini konsisten di seluruh kabupaten/kota atau hanya di beberapa kawasan yang memiliki akses kampus lebih dekat,” kata Surasa.
Gratispol juga berpengaruh pada motivasi siswa kelas akhir. Di sejumlah SMK, guru-guru melaporkan meningkatnya minat konsultasi mengenai jurusan kuliah. Sebelumnya, sebagian siswa bahkan enggan membicarakan pendidikan tinggi karena tahu biaya kuliah tak mungkin ditanggung keluarga.
Bagi Surasa, perubahan psikologis ini sama pentingnya dengan perubahan statistik.
“Ketika anak-anak tahu bahwa kuliah bukan lagi mimpi mahal, mereka mulai merencanakan masa depan dengan cara yang berbeda. Ini perubahan kultur pendidikan,” ujarnya.
Ia berharap evaluasi lanjutan akan menegaskan pola ini, serta membantu pemerintah merancang strategi pendidikan menengah kejuruan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
“Gratispol mengubah ruang gerak anak-anak SMK, Dan perubahan itu mulai terlihat dari data.”pungkasnya.
YANI | WONG | ADV Diskominfo Kaltim
Comments are closed.