BERITAKALTIM.CO – Lonjakan jumlah penduduk dan mobilitas pekerja dari luar daerah mulai memberi dampak pada kondisi lalu lintas di Balikpapan. Kemacetan yang kini mulai sering terjadi di sejumlah ruas jalan kota minyak itu disebut menjadi salah satu indikator bahwa Balikpapan sedang menuju kota besar.
Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Timur, Abdulloh, mengatakan kepadatan lalu lintas di Balikpapan tidak terlepas dari tingginya mobilitas pendatang yang datang untuk bekerja.
“Kalau kita lihat sekarang memang mulai padat di jalanan Kota Balikpapan. Pendatang juga semakin banyak,” kata Abdulloh sata ditemui, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan, secara administrasi jumlah penduduk Balikpapan berada di kisaran ratusan ribu jiwa. Namun angka tersebut bisa melonjak signifikan pada siang hari karena banyak pekerja dari luar daerah yang beraktivitas di kota tersebut.
“Jumlah penduduk Balikpapan itu sekitar 760 ribu jiwa. Tapi kalau siang hari bisa lebih dari satu juta orang. Kenapa? Karena banyak pekerja dan pendatang dari luar daerah yang masuk dan beroperasi di Kota Balikpapan,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi itu membuat aktivitas transportasi di kota tersebut semakin padat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Nah itu juga salah satu yang membuat Kota Balikpapan mulai macet. Tapi kalau sebuah kota sudah mulai macet, biasanya itu tanda-tanda kota tersebut akan menuju kota besar,” jelasnya.
Meski demikian, meningkatnya jumlah pendatang juga memunculkan keluhan dari sebagian warga lokal. Beberapa masyarakat menilai semakin sulit mendapatkan lahan atau tanah untuk tempat tinggal karena banyaknya pembangunan perumahan yang juga diminati pendatang.
Menanggapi hal tersebut, Abdulloh menilai ketersediaan lahan di Balikpapan sebenarnya masih cukup luas.
“Kalau soal tanah, masih banyak kok. Saya sendiri membuka perumahan Villa di Balikpapan, sampai sekarang masih ada yang kosong dan belum terjual,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut harga yang ditawarkan untuk beberapa kawasan perumahan masih relatif terjangkau.
“Masih banyak lahan di sana. Bahkan ada yang dijual murah juga, tapi belum semuanya terisi,” pungkasnya.
YANI | WONG
Comments are closed.