BERITAKALTIM.CO-Kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, ke Kelurahan Telagasari, Kecamatan Balikpapan Kota, Jumat (24/4/2026), menghadirkan cerita inspiratif dari penyandang disabilitas yang merasakan langsung dampak program inklusi.
Salah satunya datang dari Mentari, anggota Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Manggar Baru, Kecamatan Balikpapan Timur yang berbagi pengalaman perjalanannya selama bergabung dalam program pemberdayaan bersama SIGAB.
Di hadapan Dubes Australia dan para peserta yang hadir, Mentari mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya karena mendapat kesempatan mengikuti berbagai pelatihan yang membuka jalan menuju kemandirian.
“Saya sangat bahagia dan bangga bisa berada di sini. Terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada kami,” ujarnya.
Selama hampir empat tahun bergabung, Mentari mengaku mendapatkan banyak pelatihan keterampilan, mulai dari pengolahan makanan seperti pembuatan ikan sarden dan kerupuk sayuran, hingga kerajinan tangan seperti makrame, tas, pakaian, syal, serta aksesoris dari manik-manik seperti gelang dan gantungan.
Tak hanya keterampilan teknis, ia juga mendapatkan pelatihan pengembangan diri, termasuk public speaking. Pelatihan ini, menurutnya, menjadi titik balik penting dalam membangun rasa percaya diri.
“Dulu kami sering merasa malu, takut berbicara, takut salah, bahkan takut dipandang berbeda. Tapi sekarang kami sudah berani berbicara dan bertemu dengan banyak orang,” katanya.
Perubahan tersebut dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Mentari mengaku kini lebih percaya diri dan mampu beradaptasi di lingkungan sosial, tanpa lagi merasa minder sebagai penyandang disabilitas.
“Saya merasa memiliki hak yang sama dengan yang lain. Jadi tidak ada alasan untuk malu,” ungkapnya.
Ia menilai program yang dijalankan bersama SIGAB tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membangun mental dan kepercayaan diri para anggotanya. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Di akhir penyampaiannya, Mentari berharap program inklusi yang telah berjalan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak penyandang disabilitas.
“Semoga SIGAB ke depan terus berkembang dan bisa merangkul lebih banyak teman-teman disabilitas,” tuturnya.
Kisah Mentari menjadi gambaran nyata bahwa program inklusi bukan sekadar konsep, melainkan mampu menghadirkan perubahan signifikan dari rasa minder menjadi percaya diri, dari keterbatasan menuju pemberdayaan.
NIKEN | WONG
Comments are closed.