BERITAKALTIM.CO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mengingatkan pentingnya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap anak dengan autisme atau anak berkebutuhan khusus (ABK), terutama dalam menyikapi perilaku mereka di ruang publik.
Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparudin, menilai masih banyak masyarakat yang keliru memahami perilaku anak autis yang kerap dianggap sebagai tindakan tidak disiplin atau nakal, padahal merupakan bagian dari kondisi perkembangan mereka.
Ia menegaskan, kurangnya pemahaman terhadap karakteristik ABK dapat berdampak pada perlakuan yang tidak tepat di lingkungan sosial.
“Sering kali anak-anak ini disalahpahami dan akhirnya dimarahi, padahal kondisi tersebut bukan karena mereka nakal, melainkan bagian dari karakteristik autisme,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Saparudin menjelaskan, anak dengan autisme umumnya memiliki pola rutinitas yang kuat. Perubahan kecil dalam aktivitas sehari-hari dapat memicu reaksi emosional seperti penolakan atau tantrum.
Ia mencontohkan, perubahan kebiasaan sederhana seperti pergantian kendaraan saat dijemput orang tua dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan bereaksi secara spontan.
“Ketika ada perubahan dari rutinitas yang sudah mereka kenal, itu bisa memicu reaksi emosional. Ini perlu dipahami, bukan langsung disalahkan,” katanya.
Menurutnya, dalam beberapa kondisi, anak autis juga dapat menunjukkan perilaku yang tidak terduga seperti masuk ke suatu ruang atau bertindak spontan, sehingga diperlukan pendekatan yang tenang dan penuh kesabaran.
Saparudin menekankan, pendekatan yang tepat adalah dengan memberikan arahan secara perlahan, bukan dengan kemarahan.
Lebih lanjut, ia berharap edukasi mengenai anak berkebutuhan khusus dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga tercipta lingkungan yang lebih inklusif dan ramah bagi semua anak.
“Yang dibutuhkan adalah pemahaman dan pendampingan. Bukan dimarahi, tetapi diarahkan dengan cara yang lebih sabar,” jelasnya.
Lia Abdullah | Wong | ADV
Comments are closed.