SAMARINDA, BERITAKALTIM.COM-Gubernur Kalimantan Timur, H Awang Faroek Ishak menginginkan Natal 2016 tanpa gangguan dan aneka macam ancaman. Masyarakat diminta ikut membantu mengamankan Natal bersama-sama dengan aparat Polri dan TNI.
“Pak Kapolda (Irjen Pol Safaruddin) sudah membentuk tim melibatkan TNI dan masyarakat. Jadi, mari kita dukung agar Natal bisa berlangsung damai dan tanpa gangguan,” tegas gubernur saat memimpin Rapat Koordinasi Pengamanan Natal dan Tahun Baru 2017 di Samarinda, Senin (19/12/2016).
Hadir dalam Rakor itu Ketua DPRD Kaltim, HM Syahrun Hs, Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin, Kolonel Andi Gunawan dari Kodam VI/Mulawarman, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, H Asmuni Alie, para Kapolres, dan perwira menengah Polda Kaltim, Tokoh Umat Kristen, Ormas, serta H Yos Sutomo pembina sejumlah forum kerukunan di Kaltim.
Menurut Gubernur, Polda Kaltim dan TNI sudah membentuk tim gabungan untuk pengamanan Natal. Tugas umat kristiani dan masyarakat adalah memberikan dukungan. Umat kristiani dapat melakukan pengamanan swakarsa di gereja-gereja dan lingkungan gereja. Jika melihat orang mencurigakan cepat melaporkan ke polisi.
“Semua lapisan masyarakat Kaltim sama-sama tak menginginkan terulang kejadian di Gereja Oikumene di bulan Nopember lalu, dimana satu anak meninggal dan tiga lainnya masih dirawat di rumah sakit,” ucap Awang Faroek.
Ia juga meminta ormas atau organisasi kemasyarakatan yang ingin berpartisipasi mengamankan Natal agar berkoordinasi dengan pengurus gereja dan Polisi agar ada pembagian tugas di lapangan dan semua pihak mengetahui keberadaan ormas yang akan berpartisipasi.
Meski demikian, gubernur meminta anggota ormas yang ingin mengamankan Natal dan Tahun Baru 2017 untuk tidak memakai seragam dan atribut menyerupai dengan seragam dan atribut Polisi atau TNI agar tak membingungkan masyarakat.
Sementara itu Kapolda Kaltim, Irjen Pol Safaruddin dalam paparannya menegaskan disemua kabupaten/kota di Kaltim dan Kaltara sudah terbentuk tim pengamanan Natal dan Tahun Baru 2017 gabungan dari Polisi dan TNI.
“Apabila masyarakat (ormas) ingin berpartisipasi dibolehkan dengan melaporkan keberadannya terlebih dahulu ke Polres setempat dan Polisi akan memberitahukan keberadaannya ke pengurus gereja. Anggota Ormas itu akan kita tempat di gereja-gera agar terdistribusi merata,” tegasnya.
Melaporkan diri itu diperlukan agar komunikasi dan koordinasi bisa lancar dan di lapangan bisa dilakukan pembagian tugas yang akan ditangani, misalnya mengatur parkir jemaat gereja dan alalu lintas di sekitar gereja.
Dikatakan pula, pengamanan Natal sudah dimulai sejak beberapa minggu lalu. Polisi ingin memastikan jauh-jauh hari tak ada pihak-pihak mengacaukan Natal. Pengamanan Natal dilakukan berlapis hingga ke Polsek-Polsek. Pengamanan di lingkungan gereja juga akan ketat dan akan ada pemeriksaan barang bawaan jemaat sebelum masuk ke geraja.
“Supaya pemeriksaan bisa cepat, saya anjurkan tidak perlu membawa tas dengan banyak barang bawaan, cukup seperlunya saja,” kata Safaruddin.
Kapolda juga menegaskan dan sekaligus menepis isu ada kelompok yang ingin menganggu Natal dengan melakukan sweeping terhadap simbol-simbol terkait dengan Natal seperti banyak beredar di pesan berantai atas SMS.
“SMS itu bermula dari isu di Solo dan Surabaya, tapi di Kaltim saya pastikan tidak ada. Kalau ada akan kami amankan orangnya,” janjinya.
“Ormas dan kelompok apa saja tak berhak melakukan sweeping, kecuali Polisi,” tegasnya.
Menurutnya Safaruddin, asal usul pesan singkat soal sweeping itu dari keberatan orang muslim yang berdagang di mal-mal, dimana oleh pengelola mal dalam rangka memeriahkan Natal dan Tahun Baru diminta menghias tokonya dengan simbol-simbol Natal. “Pengelola pusat perbelanjaan tidak boleh melakukan hal itu, termasuk menyuruh orang memakai topi sinterklas,” ujarnya.#into
Veri cetak artikel ini terbit SKH Kalpost, edisi 20 Desember 2016
Comments are closed.