BeritaKaltim.Co

Selisik Kehidupan Kecamatan Pertama di Bontang

Kantor Kecamatan pertama di Bontang.
Kantor Kecamatan pertama di Bontang.

Di medio baheula, sebuah rumah sederhana dari kayu ulin terbangun di atas laut Bontang Kuala. Menjadi pelindung terik mentari dan gemuruh hujan, di sana pula saksi bisu sejarah perjalanan Kota Taman masa lampau tergurat.

Bias cahaya lampu 5 watt tampak sayup menerpa pintu depan rumah tua yang bersolek dengan tiga warna biru; navy, sky, dan indigo. Sekilas, rumah ini tak beda dengan rumah lain di sekitarnya. Tapi siapa nyana, di tempat itulah sejarah pertama Bontang sebagai kecamatan berjalan. Jauh sebelum nama Bontang disematkan, terlebih julukan Kota Taman.

Di masa penjajahan kolonial Belanda hingga Jepang, rumah ini menjadi simbol jejak masa kelam masyarakat pesisir. Abdul Kadir, seorang sesepuh di Bontang Kuala menuturkan, usia rumah itu kini diperkirakan lebih dari 100 tahun. Meski tak ada jujukan pasti soal tanggal, bulan dan tahun pembangunannya, bagian penting dari rumah itu ternyata terletak pada sebuah bak mandi dan kayu ulin di bagian belakang.

Pria 76 tahun itu menyebut, proses pembangunan rumah itu dimulai saat penjajahan Belanda. Keseluruhan pengerjaan dilakukan masyarakat setempat. Kabar tersiar, kayu-kayu yang digunakan untuk membangun rumah itu diambil dari sekitar perairan dua kelurahan di Bontang. Mulai dari Gunung Elai dan Lhoktuan.

“Kayu yang dipakai kayu ulin asli,” tutur Kadir.

Kisah lain tentang rumah yang diklaim sebagai kantor kecamatan pertama di Bontang datang dari M Sofyan BA, sesepuh lain di Bontang Kuala.
Dari penuturan Sofyan, rumah itu difungsikan sekira medio 1932 lalu.

Menariknya, cerita Sofyan, jika saat ini pimpinan di kecamatan dikenal dengan camat, justru dulu sebutannya adalah Kiai. Nama itu sendiri memang tak ada kaitannya dengan istilah terkini yang disematkan untuk pemuka agama. Lalu siapa camat pertama di Bontang? Sofyan menyebut, namanya adalah Yaman –akrab disapa masyarakat setempat dengan panggilan Kiai Yaman.

“Saya juga enggak bisa menjelaskan dari mana istilah itu diambil,” ulasnya.

“Tapi maknanya tentu pemimpin tingkat kecamatan seperti saat ini,” imbuhnya.

Pasca kemerdekaan, lambat laun istilah Kiai diganti dengan nama Asisten Wedana. Sofyan mengingat fase itu terjadi sekira medio 1950 silam. Sejak itulah, Bontang Kuala mendapatkan status kecamatan.

Di masa itu juga, Bontang memiliki wilayah yang cukup luas dengan 10 desa di bawahnya. Seperti Desa Sekerat, Desa Sekurau, Desa Tepian Langsat, Desa Bengalon, Desa Tebanga Lembak, Desa Keraitan, Desa Sangatta, Desa Bontang, Desa Santan Tengah, dan Desa Santan Ilir.

Namun sebelum resmi dimekarkan, Bontang ketika itu masih berada di bawah naungan Kutai.

Pada medio 1973, pusat pemerintahan Bontang yang berada di pemukiman atas laut, dipindah ke darat. Letaknya kini dikenal dengan nama Kelurahan Bontang Baru. “Yang memindahkan pada masa itu adalah camar, namanya pak Abdul Samad PS,” kisahnya.

Kini, di tengah gerusan zaman, Sofyan hanya merapal harap ada atensi pemerintah terhadap salahsatu situs sejarah Bontang ini. Perhatian serupa juga dipinta Sofyan terhadap generasi penerus agar rekam jejak sejarah itu tetap lestari di tengah modernisasi.

“Ini sebagai bukti, kalau pemerintahan di Bontang itu berasal dari Bontang Kuala,” tukasnya. #fs

Leave A Reply

Your email address will not be published.