BeritaKaltim.Co

Sudah Lebih 2 Tahun, Pengaduan Istri Kombespol Terhadap Istri Anggota DPRD Kaltim tak Jalan

BERITAKALTIM.CO- Perseteruan antara istri seorang perwira polisi berpangkat Kombes (Komisaris Besar) dengan istri anggota DPRD Kalimantan Timur, masih ditangani Satuan Reskrim Polresta Samarinda. Belum ada tanda-tanda polisi menetapkan tersangka.

“Belum ada apa-apa. Kami menunggu proses hukum dari kepolisian saja,” jawab Saut Purba SH, pengacara dari suami istri Nurfaidiah dan Hasanuddin Hasan sebagai pihak yang diadukan melakukan penipuan oleh Irma Suryani.

Nurfaidiah adalah istri dari anggota DPRD Kaltim Hasanuddin Masud, sementara Irma Suryani sebagai pihak yang mengadukan adalah istri dari Kombes Pol Ade Yaya Suryana yang pernah bertugas di Kaltim.

Pengaduan Irma Suryani ke Polresta sudah berlangsung sejak 4 April 2019, namun polisi belum mampu meningkatkan dengan menetapkan siapa menjadi tersangka. Upaya mediasi mengalami titik buntu, sementara baru pada 29 Oktober 2021 lalu kedua belah yang bersengketa pidana dipanggil untuk mengkonfrontir keterangan versi masing-masing.

Kubu Irma Suryani tetap keukeh dengan pengaduannya, pasal 378 KUHP. Yaitu penipuan. Ini terjadi karena pembayaran utang oleh Nurfaidah kepada Irma Suryani dengan cek kosong. Sementara cek dengan nilai Rp2,7 miliar itu diterbitkan PT Nurfaidiah Jaya Angkasa yang telah dicek oleh Irma Suryani bahwa perusahaan tersebut sudah pailit alias bangkrut. Pernyataan pailit oleh Pengadilan Negeri Surabaya.

Atas tuduhan itu, kubu Nurfaidiah membantahnya. Menurut Saut Purba, kliennya tidak pernah memberikan cek kepada Irma Suryani. Dia berbalik mempertanyakan, dari mana cek itu sampai ada di tangan Irma?

“Karena Ibu Irma yang mengadukan, silakan dikasih pembuktian dari mana dia mendapatkan cek itu. Siapa saksi-saksinya. Termasuk penyerahan uang Rp2,7 miliar, ya dibuktikan saja. Kalau kami sebagai pihak yang diadukan, menunggu saja proses hukum,” ujar Saud.

Dalam pemberitaan dibeberapa media, Irma Suryani menceritakan kronologi dia memberikan uang sebesar Rp2,7 miliar. Versi Irma, awalnya dari ajakan bisnis BBM (Bahan Bakar Minyak).

Irma menyetor modal Rp2,7 miliar dengan kesepakatan akan memperoleh fee dari keuntungan, yaitu 40 persen untuk Irma dan 60 persen untuk Nurfaidiah. Deal.

Penyerahan uang di rumah Irma Jalan Milono Samarinda antara bulan Juni-Juli 20216. Cerita Irma, uang itu dalam 3 kantongan plastik, diambil Nurfaidah dan satu orang yang tidak dikenalnya. Sementara saat pernyerahan, kubu Irma mengakui disaksikan dua orangnya bernama Kamal dan Hariadi.

Masih versi Irma, sampai bulan Desember 2016 tidak ada kemajuan dalam bisnis BBM, dia meminta uangnya dikembalikan sebesar Rp2,7 Miliar. Saat itulah, Irma mengaku dikasih cek senilai Rp2,7 Miliar dengan tanggal tertera 20 Desember 2016.

Cek punya batas waktu untuk kliring. Irma mengaku telah meminta kepada Nurfaidiah untuk mengisi rekening senilai itu agar dia bisa menariknya. Tapi sampai tanggal 20, 21 dan 22 Maret 2017, ternyata tidak ada saldo di rekening itu. Dari fakta itu kemudian Irma mengadukan karena merasa tertipu.

Kubu Nurfaidiah tidak berdiam diri. Mereka juga membuat pengaduan ke Polda Kaltim. Tuduhannya adalah; perampasan. Menurut Saut Purba SH, proses itu sedang berjalan di Polda Kaltim.

Saut tidak menjelaskan secara detil materi kasus perampasan itu. Namun dari beberapa data menyebutkan, saat hubungan ibu-ibu yang berseteru itu memanas, sejumlah dokumen penting seperti BPKB mobil dan lainnya milik suami Nurfaidiah, Hasanuddin Masud, berada di pihak Irma Suryani. #

Wartawan: charle | Hardin

Comments are closed.