BeritaKaltim.Co

Dinkes Kota Balikpapan Waspada Kasus TBC Tercatat Sebanyak 1.825 pasien

BERITAKALTIM.CO- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mengambil langkah proaktif akibat meningkatnya kasus Tuberculosis (TBC) di Balikpapan.

Langkah-langkah itu mulai dari skrining di tingkat Puskesmas hingga edukasi intensif bagi masyarakat, agar mereka mengenali gejala awal dan memahami pentingnya pencegahan.

Berdasarkan catatan Dinkes Balikpapan hingga akhir bulan Oktober 2024 terdapat sebanyak 1.825 pasien TBC. Dari1.825 kasus tercatat, upaya menanggulangi penyebaran TBC kini menjadi prioritas utama.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan Alwiyati kepada awak media, Selasa (12/11/2024).

Menurutnya, angka 1.825 itu lebih tinggi bila dibandingkan periode yang sama hingga akhir tahun lalu.Kasus itu tidak menutup kemungkinan masih bisa mengalami peningkatan kasus.

“Salah satu penyebabnya itu adalah terkait pola hidup, salah satunya merokok,” ujarnya.

Alwiati mengimbau kepada masyarakat setempat agar mewaspadai penyakit tuberkulosis (TBC).
Saat ini penyakit tersebut sedang tinggi di Balikpapan, sehingga harus menjadi perhatian dan diwaspadai.

“Karena penularan cepat dan keluarga yang merawat pun juga beresiko menular,” ucapnya.

Alwiati juga menekankan pentingnya pengobatan rutin bagi pasien agar penularan tidak terjadi dalam lingkungan keluarga. ” Kami terus memberikan edukasi agar warga mengenali tanda-tanda awal TBC, seperti batuk berkepanjangan, demam di malam hari, dan penurunan berat badan,” katanya.

Alwiyati mengatakan, Indonesia merupakan negara nomor 3 di dunia dengan penderita TBC yang paling banyak.

“Artinya sanitasi kita serta pola hidup masih buruk, karena itu penyakit menular yang diakibatkan oleh bakteri,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, untuk TBC tidak bisa dilakukan pengobatan secara mandiri serta butuh diagnosa dokter.Bila batuk selama dua minggu diikuti dengan demam pada malam hari serta berkeringat, dan nafsu makan menurun langsung periksa ke dokter.

Alwiyati juga meminta bila ada yang batuk agar menerapkan etika batuk seperti menutup mulut dengan siku dan sebagainya. Kemudian gunakan masker bila anda sakit, supaya tidak menularkan orang lain..

Menurutnya penerapan protokol kesehatan pada masa pandemi COVID-19 sudah cukup baik, dan tidak ada salahnya meskipun tidak ada COVID19 tetap diterapkan secara pribadi.

Dia juga menegaskan bahwa TBC itu bisa sembuh asalkan penderita rajin berobat.

“Pada umumnya pasien TBC itu berobat selama sembilan bulan, tapi ada yang gagal karena mereka bosan minum obat dan akhirnya malah tambah parah,” ujar Alwiati. #

Reporter: Tina | Editor: Wong

Comments are closed.