BERITAKALTIM.CO — Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatatkan capaian investasi yang menggembirakan pada semester pertama tahun 2025. Hingga triwulan II, realisasi investasi telah mencapai Rp43,47 triliun atau 54,43 persen dari target nasional sebesar Rp79,86 triliun.
Capaian tersebut juga berhasil menyerap 29.450 tenaga kerja, baik dari sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).
“Realisasi investasi Kalimantan Timur sampai triwulan kedua sudah mencapai Rp43,47 triliun atau 54,43 persen dari target nasional. Kami optimistis pada semester kedua bisa melampaui target Rp79,86 triliun,” ujar Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya DPMPTSP Kaltim, Riawati, Jumat (17/10/2025).
Dari sisi persebaran wilayah, Kabupaten Kutai Timur menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan kontribusi investasi terbesar di Kaltim. Disusul Kota Balikpapan, Kutai Kartanegara, Berau, dan Kutai Barat.
“Tidak mengherankan jika Kutai Timur menjadi penyumbang terbesar karena sekitar 25 persen dari luas wilayah Kaltim berada di daerah tersebut dan memiliki sumber daya alam yang sangat potensial,” jelas Riawati.
Dari total investasi yang masuk, PMDN mendominasi sebesar 74,62 persen, sedangkan PMA berkontribusi 25,38 persen atau senilai Rp11,04 triliun. Negara-negara yang berinvestasi di Kaltim antara lain Singapura, Mauritius, Tiongkok, Malaysia, dan Inggris.
“Biasanya, kalau ada pergeseran, investor dari Inggris berganti dengan Korea atau negara-negara Asia Timur lainnya. Polanya masih relatif sama dalam beberapa tahun terakhir,” tambahnya.
Riawati menegaskan, arah kebijakan investasi Kaltim kini tengah diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Fokusnya beralih dari sektor-sektor yang tidak berkelanjutan ke investasi hijau (green investment) dan pertumbuhan berkelanjutan (growth investment).
“Strategi investasi ke depan diarahkan pada tiga sektor utama, yaitu hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah, pengembangan pariwisata berkelanjutan atau ekowisata, serta penguatan energi baru terbarukan (EBT),” ungkapnya.
Menurut dia, pemerintah daerah saat ini mulai mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendorong investasi berbasis energi terbarukan seperti waste to energy dan proyek EBT lainnya.
“Untuk energi fosil, kita mulai tidak melihat ke sana lagi. Sekarang dukungan pemerintah lebih diarahkan ke sektor energi baru terbarukan,” tegas Riawati.
Dengan tren peningkatan investasi yang stabil dan dukungan kuat terhadap sektor-sektor strategis, DPMPTSP Kaltim optimistis target nasional tahun 2025 akan tercapai bahkan terlampaui.
“Kami sangat optimistis karena realisasi di semester pertama sudah di atas 50 persen. Artinya, kinerja investasi di Kaltim berjalan on track dan berpotensi melampaui target nasional,” pungkasnya.
Yani | Wong
Comments are closed.