BERITAKALTIM.CO – Rapat Dengar Pendapat (RDP) masalah distribusi listrik di Kabupaten Nunukan dipimpin Wakil Ketua DPRD Nunukan, Burhanudin. Mengundang para pihak, termasuk para mahasiswa Aliansi Peduli PLN, akhirnya diketahui sumber masalah sehingga sering terjadi byarpet listik di kabupaten itu.
Wakil Ketua DPRD Nunukan, Burhanudin, mengapresiasi aksi para mahasiswa yang menginisasi dilaksanakannya RDP di Gedung DPRD Nunukan, Selasa (9/1/2024). Hadir dalam RDP itu pihak PLN UP3 Kaltara, PLN UPDK Tarakan, PLN ULP Nunukan dan PLTD Sei Bilal, Dishub Kabupaten Nunukan dan Bapenda Nunukan serta Kabag Ekonomi Setda Nunukan.
“Kita mengharapkan PLN agar memenuhi janjinya yakni merealisasikan penambahan daya di PLTMG Sebaung sebelum bulan September 2024,” katanya.
Burhanuddin mengatakan, ada beberapa poin yang dihasilkan dalam RDP itu, yakni; pertama mendesak pihak PLN, Pemerintah Daerah, dan DPRD mengawal permasalahan listrik tersebut sampai ke tingkat pusat. Keinginannya adalah untuk memberikan penambahan daya.
“Hal kedua, ada usulan mempercepat revitalisasi mesin pembangkit di Sei Limau,” ucap Burhanuddin.
Sementara itu, sebelumnya Manager PLN UP3 Kaltara, Arief Prastyanto menjelaskan, sebagai pihak yang mendistribusikan listrik ke pelanggan, pihaknya tak menampik kondisi kelistrikan terparah terjadi di kabupaten itu pada sekitar 29 Juli hingga 12 Oktober 2023 lalu.
Menurut Arif, kondisi itu lantaran terjadi defisit daya, di mana kemampuan daya pembangkit lebih kecil dibandingkan dengan beban puncak yang terjadi.
“Untuk beban puncak di tahun 2021 itu yakni 13,5 MW, di tahun 2022 naik menjadi 14,3 MW, jadi tiap tahunnya ada kenaikan sekitar 0,8 MW. Namun, di tahun 2023 terjadi kenaikan dua kali lipat menjadi 1,7 MW jadi beban puncak di Nunukan saat ini 16 MW,” kata Arief beralasan.
Diungkapkannya, 95 persen kenaikan beban puncak disebabkan oleh pelanggan eksisting dan 5 persen dari pelanggan baru.
“Kapasitas pembangkit saat itu sebenarnya 16 MW juga, namun saat itu ada 2 mesin yang keluar unit sehingga tidak beroperasi. Sehingga terjadi penurunan yang menyebabkan defisit 1,6 MW,” ungkapnya.
Setelah adanya penambahan 2 unit mesin, kini daya mampu dari total mesin yang ada sebanyak 18 MW dengan beban puncak 16 MW, sehingga masih ada cadangan supruls 2 MW.
Namun, jika setelah adanya penambahan 2 mesin beberapa waktu lalu dan masih terjadi pemadaman listrik. Arief mengatakan jika itu disebabkan oleh faktor eksternal, seperti adanya ledakan, pohon tumbang, baliho dan gangguan hewan sehingga terjadi pemadaman listrik.
“Solusi jangka pendek dan menengahnya yakni menambah mesin pembangkit di PLTMG Sebaung sebesar 6 MW, sedangkan untuk jangka panjangnya akan ada reaktifasi untuk PLTD Sei Limau 1,3 MW. Tentunya ini akan menambahkan cadangan kita sehingga tidak ada lagi pemadaman listrik bergilir,” jelasnya. #
Reporter: Jhon | Editor: Wong