BERITAKALTIM.CO – SMPN 2 Bontang mulai melaksanakan tes psikolog bagi calon peserta didik inklusi dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologis sekaligus memetakan potensi dan kebutuhan belajar setiap siswa.
Kepala SMPN 2 Bontang, Siti Chusuning Khayah mengatakan, pada penerimaan siswa inklusi tahun ini sekolah telah menerima delapan calon siswa yang akan mengikuti proses asesmen psikologis.
Menurutnya, tes psikolog menjadi tahapan penting sebelum siswa menjalani proses pembelajaran di sekolah. Melalui asesmen tersebut, pihak sekolah dapat mengetahui kondisi serta kebutuhan pendampingan masing-masing anak.
“Jadi untuk mengetahui kondisinya kita harus melakukan tes psikolog,” katanya, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, hasil tes nantinya tidak hanya digunakan untuk mengidentifikasi kondisi siswa, tetapi juga memprediksi potensi maupun bakat yang dimiliki anak. Dengan begitu, sekolah dapat menentukan pola pembelajaran dan pendampingan yang tepat.
“Ini akan menjadi dasar kami untuk memberikan pendampingan kepada ananda tersebut,” lanjutnya.
Siti Chusuning menambahkan, hasil asesmen juga akan menjadi rujukan bagi guru dan orang tua dalam memperlakukan serta mendampingi anak secara tepat, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Sementara itu, Koordinator Inklusi sekaligus Guru Bimbingan Konseling SMPN 2 Bontang, Siti Risalatul Muawanah mengatakan, hasil tes psikolog nantinya akan disampaikan kepada orang tua dan tenaga pendidik agar proses pembinaan siswa dapat berjalan selaras.
“Nanti juga akan disampaikan ke orang tua siswa dan juga guru untuk bekerjasama membimbing anak tersebut di dalam ruang belajar maupun di rumah,” jelasnya.
Ia menerangkan, sekolah selama ini telah menerapkan Program Pembelajaran Individual (PPI) bagi siswa inklusi. Program tersebut disusun sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing peserta didik agar proses belajar dapat berjalan lebih optimal.
Saat ini, jumlah siswa inklusi di SMPN 2 Bontang tercatat sebanyak 24 siswa. Sebanyak sembilan siswa di antaranya akan lulus pada tahun ini, sementara delapan siswa inklusi baru akan bergabung setelah proses SPMB selesai dilaksanakan.
Pihak sekolah berharap, melalui asesmen psikolog dan penerapan pembelajaran individual, siswa inklusi dapat memperoleh layanan pendidikan yang lebih tepat, nyaman, dan mendukung perkembangan potensi mereka secara maksimal.
UPI | WONG | ADV
Comments are closed.