BeritaKaltim.Co

Ketapanrame Tak Sekadar Wisata, Desa di Mojokerto Ini Kembangkan Kopi, Kuliner hingga Wisata Alam

BERITAKALTIM.CO-Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur kini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata semata, tetapi juga berkembang menjadi kawasan terpadu berbasis alam, kuliner, dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, kepada awak media, pada hari Jumat, 22 Mei 2026.

Menurut Zainul, desa Ketapanrame yang berada di kawasan lereng pegunungan itu menawarkan beragam pilihan wisata bagi pengunjung. Mulai dari wisata keluarga, kebun kopi, kebun jeruk, hingga wisata alam seperti air terjun dan area perkemahan.

“Ketapanrame ini tidak hanya destinasi tempat wisata, tetapi banyak pilihan yang bisa dikunjungi seperti kebun kopi dan kebun jeruk. Pendukungnya juga banyak hotel untuk memberikan kenyamanan ketika banyak orang datang ke Ketapanrame,” ujarnya, saat ditemui di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.

Beberapa destinasi yang menjadi andalan di antaranya Taman Ghanjaran yang menawarkan wahana permainan keluarga dan pusat kuliner, kemudian Sumber Gempong dengan konsep wisata alam lengkap dengan permainan dan kuliner rakyat, hingga Air Terjun Dlundung yang menjadi tujuan favorit wisata alam pegunungan.

Tak sedikit wisatawan, kata dia, datang hanya untuk menikmati udara sejuk dan panorama pegunungan tanpa harus mengunjungi lokasi wisata tertentu.

“Banyak orang yang masuk Trawas hanya bermalam di hotel-hotel di Ketapanrame untuk menikmati udara segar, sejuk, dan pemandangannya bagus,” katanya.

Di sektor ekonomi lokal, Ketapanrame juga mengembangkan UMKM berbasis kuliner khas daerah. Meski jumlah pelaku usaha di area wisata belum terlalu banyak, masyarakat mulai merasakan dampak ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Kuliner seperti nasi rawon, nasi kare, soto, nasi jagung, rujak, hingga tahu campur menjadi sajian khas yang ditawarkan kepada wisatawan.
“Lokasinya memang kami bagi. Ada area khusus makanan berat, area jajanan, dan area oleh-oleh,” jelas Zainul.

Zainul mengakui sektor wisata Ketapanrame sempat mengalami penurunan pengunjung, setelah mencapai puncak kunjungan pada 2022 hingga 2023. Persaingan dengan destinasi wisata lain menjadi salah satu faktor utama.

“Faktornya ada kompetitor juga, pesaing kita banyak, sehingga kami harus bisa membuat kreasi dan inovasi baru,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, dukungan dari Bank Indonesia disebut menjadi penyemangat bagi pengelola wisata desa. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa sarana dan prasarana, tetapi juga pendampingan pengelolaan keuangan hingga penataan kawasan wisata.

“Kami diberikan pendampingan terkait keuangan di kasir, dibantu sarana-prasarananya sehingga memudahkan petugas wisata melakukan transaksi,” katanya.

Bank Indonesia juga membantu pemasangan penunjuk arah menuju lokasi wisata di kawasan Trawas dan Ketapanrame agar wisatawan lebih mudah mengakses destinasi.

Selain itu, sejumlah fasilitas seperti gazebo, kursi, dan gedung pertemuan mulai diperbaiki agar wisatawan dapat tinggal lebih lama di kawasan tersebut.

“Kami ingin wisata ini tidak hanya didatangi lalu langsung pulang, tetapi pengunjung bisa lebih lama tinggal dan menikmati suasana,” ujarnya.

Salah satu potensi unggulan Ketapanrame saat ini adalah kopi lokal. Zainul menyebut kopi dari wilayahnya mulai dikenal luas setelah mendapatkan dukungan branding dari Bank Indonesia.

Meski belum menyasar pasar ekspor, permintaan kopi lokal disebut terus meningkat, terutama dari kafe-kafe di Jawa Timur. “Sekarang banyak kafe berdiri di Mojokerto dan sekitarnya, kopi-kopi itu banyak mengambil dari Ketapanrame,” katanya.

Ia mengungkapkan produksi kopi saat masa panen ideal dapat mencapai sekitar 50 ton per tahun. Namun untuk sementara, pasar lokal masih menjadi prioritas karena harga jual dinilai lebih menguntungkan dibanding ekspor.

Ke depan, Pemerintah Desa Ketapanrame juga menyiapkan konsep wisata edukasi kebun kopi. Wisatawan nantinya tidak hanya membeli produk kopi, tetapi juga bisa menikmati pengalaman langsung di area perkebunan. “Kami ada paket trip ke lokasi kebun kopi, jadi pengunjung bisa camping dan belajar di sana,” jelasnya.

Pengembangan wisata tersebut akan dilakukan bersama kelompok tani hutan dengan tetap menjaga fungsi kawasan hutan agar tidak rusak.

Menurut Zainul, pengembangan wisata berbasis perkebunan kopi diproyeksikan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa hingga 10–20 persen.

Keberhasilan pengembangan wisata berbasis pemberdayaan masyarakat di Ketapanrame juga mulai menarik perhatian daerah lain. Zainul menyebut sejumlah rombongan dari Kalimantan Selatan pernah datang untuk melakukan studi banding.

Menurutnya, konsep yang dipelajari bukan sekadar pembangunan tempat wisata, tetapi bagaimana melibatkan masyarakat desa dalam pengembangan ekonomi lokal.

“Teman-teman dari Kalimantan banyak belajar bagaimana kami melibatkan masyarakat melalui pemberdayaan yang dilakukan di Ketapanrame,” pungkasnya.

Salah satu UMKM di Desa Wisata Ketapanrame mulai mengenalkan produk olahan berbahan baku jeruk nagami sebagai oleh-oleh khas desa. Jeruk nagami tersebut diolah menjadi berbagai produk, mulai dari sirup, kue kering, manisan, selai, hingga minuman siap seduh.

“Produk olahan jeruk nagami itu juga sudah dipasarkan secara daring melalui Shopee dengan nama toko Kusuma Osa Farm. Produk dikemas dalam ukuran 350 gram dan dijual seharga Rp25 ribu per kemasan,” ucap Kasiami selaku pelaku UMKM jeruk nagami di Desa Ketapanrame.(*)

Comments are closed.